Random Posts

randomposts
  • Amazing

    Jadilah Bagian dari Sejarah Perjuangan

  • Baik Saja Tak Cukup

    Sebab Menjadi Baik Adalah Bagian dari Kewajiban

  • Kunci Keberhasilan

    Jika Kunci dari Keberhasilan Ada ditangan Kita, Maka Bergeraklah untuk Menjadi Berhasil

  • Klasik

    Sinar Memang Menarik, Tapi Gelap Membuat Cahaya Menjadi Berarti

  • Ilmu adalah Karakter

    Jika Ingin Berkarakter maka Belajarlah, Agar Ilmu Menjadikanmu Berkarakter

Minggu, 28 April 2013

Al-Farabi


BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latarbalakang
Sejarah merupakan suatu hal yang tidak boleh dilupakan. Kita harus mempelajari dan mengenangnya. Begitupun dengan sejarah filsafat Islam. Di mana di dalam filsafat islam ada beberapa tokoh yang memiliki andil dalam memaparkan filsafatnya. Di sini saya akan membahas salah satu filosuf dalam filsafat Islam yaitu Al-Farabi.
Beliau hidup pada abad ke 9-10 M. Karya-karyanya sangat mengagumkan dan dikenang sampai saat ini. Bahkan saat ini banyak filosuf modern yang mengadopsi dari filsafat Al-Farabi. Dalam sejarahnya, Al-Farabi juga menjelaskan tentang Teori Kenabian dan juga membuat karya pendamai antara filsafat Plato dengan Aristoteles.


B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana riwayat hidup  Al-farabi?
2.      Apa saja karya-karya Al-Farabi?
3.      Bagaimana Teori Kenabian yang telah dikemukakan oleh Al-Farabi?
4.      Apa karya pendamai antara filsafat Plato dengan Aristoteles yang dibuat oleh al-farabi?

C.    Tujuan
1.      Untuk mengetahui riwayat hidup Al-Farabi.
2.      Untuk mempelajari karya-karya Al-Farabi.
3.      Agar mengetahui tentang Teori kenabian.
4.      Untuk mengetahui karya pendamai yang telah dibuat oleh al-farabi.


D.    Kegunaan
1.      Dengan mengetahui Riwayat Al-Farabi, kita akan sadar bahwa seorang muslim juga dapat mempelajari dan menekuni filsafat.
2.      Kita dapat mengaplikasikan filsafat-filsaft Al- Farabi dalam kehidupan sehari-hari.
  


BAB II
PEMBAHASAN

AL-FARABI
A.    Riwayat Hidup Al-Farabi
Al-Farabi lahir di Wasij dekat Farab atau Transoxania pada tahun 870 M.[1] Nama lengkapnya yaitu Abu Nasr Muhammad bin Muhammad bin Tharkhan Al-Farabi.[2] Sebutan Al-Farabi juga diambil dari nama kampung kelahirannya tersebut. Berdasarkan informasi yang telah terhimpun, Al-farabi hidup dalam keluarga seorang jendral Turki.[3] Pendidikan dasar al-farabi dimulai dengan mempelajari dasar-dasar ilmu agama dan bahasa. Ilmu Agama meliputi Al-quran, hadis, tafsir dan fikih. Kemudian bahasa meliputii bahasa Arab, Persia dan Turki. Namun ia tidak mengenal bahasa Yunani dan Suryani, yaitu bahasa-bahasa ilmu pengetahuan dan filsafat pada saat itu.[4] Setelah dari farab, ia kemudian pindah ke Bagdad, pusat ilmu pengetahuan pada waktu itu. Di sana ia belajar kepada Abu Bishr Matta Ibn Yunus dan tinggal di Bagdad selama 20 tahun. Selama itu ia menggunakan waktunya untuk mengarang, memberikan pelajaran dan mengulas buku-buku filsafat. Muridnya yang terkenal pada masa itu antara lain Yahya dan ‘Aidi. 
Kemudian ia pindah ke Aleppo dan tinggal di Istana Saif Al-Daulah. Ia memusatkan perhatian pada ilmu pengetahuan dan filsafat. Dibidang filsafat ia melahap habis karya-karya Aristoteles. Sampai-sampai ia membaca de Anima Aristoteles sebanyak 200 kalli dan physics 40 kali. Berkat keseriusannya mendalami karya-karya Aristoteles, ia pun disebut sebagai Guru Kedua.[5] Ia berkeyakinan bahwa filsafat tidak boleh dibocorkan dan disampaikan ke tangan orang awam. Oleh karena itu filosuf-filosuf harus menuliskan pendapat atau falsafat  mereka dalam gaya bahasa yang gelap. Agar jangan diketahui oleh sembarang orang. Dengan demikian iman serta keyakinan seseorang tidak akan kacau.[6]

B.     Karya-karya Al-Farabi
Al-Farabi mempunyai pengetahuan yang luas. Ia mendalami ilmu yang ada pada masanya termasuk filsafat. Ia mendefinisikan filsafat sebagai ilmu yang menyelidiki hakikat yang sebenarnya dari segala yang ada.[7] Karya-karya Al-farabi beredar di timur dan Barat pada abad 10 dan 11 M, sebagaimana terlihat terjemahannya ke bahasa Yunani dan Latin hingga memengaruhi cakrawala peikiran sarjana Yahudi dan Kristen.[8] Diantara karya dari Al-farabi pada masa itu antara lain:
1.      Ontologi
Al-farabi menitik beratkan pemikirannya pada konsep wujud. Sesuatu yang ada namun sulit didefinisikan dengan tepat, mengingat wujud lebih dahulu ada sebelum kosep tentang segalanya ada. Wujud dalam pandangan al-farabi dibedakan kedalam dua kategori, yaitu wajib dan  mukmin. Wajib al wujud adalah berdiri sendiri, yang mesti ada dan kita tidak dapat membayangkan ketiadaannya, misalnya Tuhan. Sedangkan yang mukmin al wujud ialah wujud yang menjelaskan berkat wujud yang lainnya. Ketiadaannya dapat dimengerti oleh akal sehat, misalnya alam semesta ini.
Semua yang ada bersifat potensial dan aktual. Wujud potensial berkemampuan menjadi aktual, sebab semua benda sebelum menjadi benda aktual bersifat mukmin, karena masih berwujud potensial. Sedang wujud aktual adalah wujud yang ada secara nyata.[9] Al-farabi membagi wujud ke dalam substansi dan aksiden, serta esensi dan aksistensi. Menurutnya, substansi adalah wujud yang ada pada sendiri, sedangkan aksiden selalu memerlukan substansi yang menjadi dasar keberadaannya. Esensi merupakan inti keberadaan sesuatu dan eksistensi adalah aktualisasi dari esensi.
2.      Metafisika Teologis
Dalam suatu karyanya, al-farabi manyatakan bahwa Tuhan dapat diketahui dan tidak diketahui, Tuhan nampak sekaligus tersembunyi. Pengetahuan terbaik tentang Tuhan ialah memahami bahwa Dia adalah yang tidak dapat dijangkau. Manusia tidak dapat mengetahui Tuhan karena keterbatasan kapasitas intelaktualnya.[10]
Menurut al-farabi, Tuhan bukan pesona yang tidak dapat dipahami sama sekali melalui penalaran. Al-farabi membuktikan aksistensi Tuhan dengan mengajukan beberapa argumen. Pertama, bukti dari teori gerak. Semua yang ada di alam semesta selalu bergerak yang pada gilirannya bermuara pada satu hal yang pasti yaitu adanya sesuatu yang tidak bergerak tetapi bertindak sebagai penggerak. Kedua, penyebab efesiensi. Ketiga argumen mukmin al-wujud dan wajib al wujud.
Alfarabi juga memberi sifat kepada Tuhan, dalam artian bahwa manusia dapat mengetahui Tuhan melalui ciptaan-Nya. Ia juga mengemukakan sifat Tuhan seperti Esa, sederhana, tidak terbatas, hidup dan sebagainya. Tuhan itu sederhana, karena Dia tidak tersusun dari wujud fisik dan metafisik. Tuhan itu satu. Jika Dia lebih dari satu berarti Tuhan terdiri atas beberapa komponen.

3.      Kosmologi
Tuhan adalah keniscayaan dan keberadaan alam semesta juga kebenaran yang tidak dapat disangkal. Dalam menjabarkan masalah Tuhan, al-farabi mengedepankan teori emanasi. Dalam karyannya yang berjudul Kitab Ara Ahl al-Madinah al-Fadhilat, al-farabi menjelaskan proses emanasi sebagai berikut: mula-mula akal berpikir tentang diri-Nya, dan dari pemikiran itu timbul wujud lain. Tuhan merupakan wujud pertama, dan dari pemikiran itu timbul lah wujud Kedua yang juga mempunyai substansi yang disebut Akal Pertama yang bersifat imateri. Akal pertama berpikir tantang Tuhan selaku wujud pertama, dan dari pemikiran itu melahirkan wujud Ketiga yang disebut akal Kedua. Wujud Kedua/ akal Pertama selanjutnya berpikir tentang dirinya dan memunculkan langit. Wujud Ketiga/ Akal Kedua berpikir tentang wujud Pertama yang kemudian menimbulkan wujud Keempat yang disebut akal Ketiga. Ketika wujud Ketiga/ Akal Kedua memikirkan dirinya sehingga memunculkan bintang-bintang yang kukuh. Wujud Keempat/ Akal Ketiga memikirkan wujud Pertama yang kelak memunculkan wujud Kelima/ Akal Keempat. Ketika memikirkan dirinya, timbul lah bola Saturnus. Wujud Kelima/ Akal Keempat memikirkan wujud Pertama meninbulkan wujud Keenam/ Akal Kelima. Ketika memikirkan dirinya, terbantuklah bola Yupiter. Wujud Keenam/ Akal Kelima yang berpikir tentang wujud Pertama melahirkan wujud Ketujuh/ Akal Keenam. Ketika memikirkan diri sendiri, timbul bola Mars. Wujud Ketujuh/ Akal Keenam memikirkan wujud Pertama memunculkan Wujud Kedelapan/ Akal Ketujuh.  Ketika memikirkan diri sendiri, lalu timbul bola matahari. Wujud Kedelapan/ Akal Ketujuh memikirkan wujud Pertama yang selanjutnya melahirkan Wujud Kesembilan/ Akal Kedelapan. Ketika memikirkan diri sendiri, bola Venus pun tercipta darinya. Wujud Kesembilan/ Akal Kedelapan memikirkan wujud Pertama, sehingga muncul wujud Kesepuluh/ Akal Kesembilan. Ketika memikirkan diri sendiri, terciptalah bola Merkuri. Wujud Kesebelas/ Akal Kesepuluh memikirkan dirinya sendiri, memunculkan bola Bulan.[11]
Ketika proses pemikiran sampai pada wujud Kesebelas/ Akal Kesepuluh, kemunculan akal-akal berikutnya pun terhenti. Dari akal Kesepuluh itu terciptalah Bumi, ruh-ruh, serta materi pertama yang menjadi dasar unsur api, udara, air, dan tanah. Jadi dengan demikian, terdapat sepuluh akal dan sembilan lahit yang tetap kekal berputar di sekitar bumi.

4.      Psikologi
Jiwa manusia memancar dari akal sepuluh.[12] Menurut al-farabi, di dalam jiwa terkandung tiga daya utama antara lain daya gerak, mengetahui dan berpikir. Daya gerak meliputi makan, memelihara dan berkembang. Daya mengetahui meliputi daya rasa dan imajinasi. Sedangkan daya berpikir meliputi akal praktis dan akal teoris.
Dari tiga daya tersebut, hanya daya berpikir yang memiliki tingkatan, yaitu:
a.       Akal potensial, yaitu akal yang baru memiliki potensi berpikir dalam arti kemampuan melepaskan arti-arti atau bentuk dari materinya saja.
b.      Akal aktual, yaitu suatu akal yang telah mampu melepaskan arti dari materinya, dan memiliki wujud yang sesungguhnya dalam akal. Bukan lagi dalam bentuk potensial, namun dalam bentuk aktual.
c.       Tingkat akal mustafad, yaitu akal yang Cuma bisa menangkap bentuk. Letak perbedaan antara akal mustafad dengan akal aktual yaitu pada daya tangkap terhadap sesuatu. Jika akal aktual hanya mampu menangkap arti yang terlepas dari materi, maka akal mustafad sanggup menangkap bentuk tanpa terikat dengn materi, seperti Tuhan dan Akal Sepuluh.

Akal potensial menangkap bentuk dari sesuatu yang dapat diserap oleh pancaindera, dan akal aktual menangkap arti dan konsep. Sedangkan akal mustafad memiliki daya lebih tinggi sehingga mampu berkomunikasi atau menangkap inspirasi dari akal yang lebih tinggi, yaitu akal Sepuluh. Ini adalah akal aktif, di dalamnya terdapat bentuk segala wujud. Hubungan manusia dengan akal aktif seperti hubungan antara mata dengan matahari. Mata dapat melihat karena menerima cahaya matahari.[13]

5.      Filsafat Politik
Dalam pemkiran politik, al-farabi telah menulis karya tersendiri tentang kota Utama. Kota digambarkan sebagai seonggok tubuh manusia yamg memiliki anggota dan fungsi masing-masing. Kepala memegang posisi terpenting, karena bertugas mengatur anggota badan yang lain. Kepala harus memiliki kemampuan akal mustafad yang dapat mengkomunikasikannya dengan akal Sepuluh selaku pengatur bumi. Sebaik-baik kepala adalah Nabi dan Rasul. Kepala yang serupa inilah yang dapat mengadakan peraturan-peraturan yang baik.[14]
Manurut al-farabi, masyarakat terdiri dari dua macam yaitu masyarakat sempurna dan tidak sempurna. Masyarakat sempurna dibagi ke dalam tiga tingkatan: masyarakat besar, yaitu dunia seluruhnya; masyarakat pertengahan, yang terdiri dari sebagian dunia atau teritorial; dan masyarakat kecil yang hanya terdiri atas satu kota. Perkembangan dari tidak sempurna menjadi sempurna menurut Al-farabi bertingkat-tingkat. Mula-mula masyarakat manusia berupa masyarakat yang tersebar, lalu menjadi masyarakat desa dan kampung. Kemudian menuju ke masyarakat kota yang sempurna berpemerintahan.[15]
Pokok filsafat politik kenegaraan al-farabi ialah  autokrasi dengan seorang raja yang berkuasa mutlak mengatur negara.  Menurut al-farabi, negara yang utama ialah kota yang warganya tersusun menurut susunan alam besar atau menurut susunan alam kecil. Di mana di dalam negara yang terpenting adalah kepala negara. Adapun negara yang tidak baik dibagi dua macam yaitu negara fasik dan negara bodoh. Negara fasik adalah negara yang anggotanya berpengetahuan sama dengan anggota Madinah Fadilah, tetapi kelakuannya seperti anggota negara bodoh. Sedangkan negara bodoh sendiri adalah negara yang anggotanya hanya mencari kesenangan jasmani saja.[16]
Khusus mengenai etika kenegaraan ia mengemukakan suatu ide yang mengemukakan bahwa dalam tiap keadaan ada unsur-unsur pertentangan. Hal itu seperti dalam alam, yang kuat berarti lebih sempurna dari yang lemah. Dalam politik kenegaraan orang harus mengambil teladan dari naluri hewani itu. Sebab keadilan itu baru bisa dilaksanakan bila kita dalam kemenangan.

C.    Teori Kenabian
Akal yang sepuluh itu dapat disamakan malaikat dalam faham Islam. Filosof dapat mengetahui hakekat karena dapat berkomunikasi dengan akal Kesepuluh. Nabi atau Rasul demikian pula dapat menerima wahyu karena mempunyai kesanggupan mengadakan komunikasi dengan Akal Kesepuluh.[17] Tapi kedudukan Rasul lebih tinggi daripada Filosof. Nabi atau Rasul dapat berkomunikasi dengan akal Kesepuluh karena pemberian Tuhan. Sedangkan filosof dapat mengadakan komunikasi dengan akal Kesepuluh atas usahanya sendiri. Rasul atau Nabi diberi daya imajinasi yang begitu kuat sehingga dapat berhubungan dengan akal Kesepuluh tanpa latihan yang dijalani para Filosof.[18]
Oleh karena filosof dan Nabi atau Rasul mendapat pengetahuan mereka dari sumber yang satu yaitu akal Kesepuluh. Maka pengatahuan falsafat dan wahyu yang diterima tidak bisa bertentangan. Mukjizat terjadi karena hubungan dengan akal Kesepuluh dapat mewujudkan hal-hal yang bertentangan dengan kebiasaan.

D.    Karya Pendamai Al-farabi
Suatu keistimewaan yang diraih al-farabi ialah tentang usaha yang ia lakukan dalam mengkompromikan perbedaan paham antara Aristoteles dengan Plato. Plato mengatakan bahwa alam nyata yang kita lihat ini hanyalah tiruan semata dari alam indra. Sedangkan Aristoteles mengatakan sebaliknya. Lalu Plato mengatakan bahwa alam dunia ini baru dan tidak abadi, maka sebaliknya Aristoteles berpendapat bahwa alam dunia ini qadim, sudah ada sejak semula dan abadi selama-lamanya.[19]
Dalam bukunya al-farabi membahas perbedaan antara filsafat Plato dan Aristoteles.
a.       Apakah dalam karangan Aristoteles itu terdapat pertentangan dalam dirinya sendiri?
b.      Apakah pendapat yang dikatakan orang pendapat Aristoteles itu sebenarnya pendapat orang lain?
c.       Apakah pertentangan Plato dan Aristoteles itu sungguh-sungguh merupakan pertentangan mutlak yang tidak mungkin disesuaikan lagi?
Persoalan pertama dijawab oleh al-farabi bahwa tidak mungkin pada seorang yang amat pandai seperti Aristoteles terdapat pertentangan dalam dirinya sendiri.[20]
Persoalan kedua dijawab oleh al-farabi bahwa kemungkinan pendapat yang diuraikan itu bukan lah pendapat aristoteles jauh sekali, sebab bagaimana pun filsafat Aristoteles sudah cukup termasyur di kalangan orang banyak.
Persoalan ketiga dijawab oleh al-farabi bahwa pertentangan yang ada diantara Plato dan Aristoteles itu janganlah dianggap sebagai pertentangan yang mutlak dan prinsipil, tetapi haruslah dianggap sebagai pertentangan yang relatif dan hanya dalam soal rincian saja.
Al-farabi mengatakan bahwa semua filsafat itu memikirkan kebenaran. Pada hakikatnya kebenaran filsafat pada prinsipnya adalah tidak berbeda. Demikian juga antara filsafat dan agama, keduanya sama-sama mimikirkan kebenaran.[21] Seandainya terdapat pertentangan pemikiran antara Plato dan Aristoteles tentu bukan perbedaan yang prinsipil, namun dalam masalah yang relatif.
Demikian usaha yang dilakukan al-farabi utuk mengkompromikan dua pendapat yang menurut anggapan banyak orang saling bertentangan. Banyak karangan yang ditinggalkan al-farabi, namun karangan tersebut tidak banyak dikenal seperti karangan ibnu Sina. Boleh jadi karena karangan al-farabi hanya berupa risalah, dan sedikit sekali yang berupa buku besar yang mendalam pembicaraannya. Kebanyakan karangannya telah hilang, dan masih ada kurang lebih 30 buah saja, ditulis dalam bahasa Arab.






BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Al-Farabi adalah seorang filosof Islam yang  lahir di Wasij dekat Farab atau Transoxania pada tahun 870 M. Nama lengkapnya yaitu Abu Nasr Muhammad bin Muhammad bin Tharkhan Al-Farabi. Pendidikan dasar al-farabi dimulai dengan mempelajari dasar-dasar ilmu agama dan bahasa. Setelah dari farab, ia kemudian pindah ke Bagdad, pusat ilmu pengetahuan pada waktu itu. Di sana ia belajar kepada Abu Bishr Matta Ibn Yunus dan tinggal di Bagdad selama 20 tahun. Selama itu ia menggunakan waktunya untuk mengarang, memberikan pelajaran dan mengulas buku-buku filsafat
Al-farabi dijuliki sebagai Guru Kedua karena karya-karyanya yang sangat monumental. Karya-karya al-farabi secara garis besar yaitu:
1.      Ontologi
2.      Metafisika Teologis
3.      Konsep Kosmologi
4.      Psikologi
5.      Filsafat politik
Al-farabi juga memaparkan tentang teori kenabian. Menurut al-farabi, Nabi atau Rasul demikian pula dapat menerima wahyu karena mempunyai kesanggupan mengadakan komunikasi dengan Akal Kesepuluh. Tapi kedudukan Rasul lebih tinggi daripada Filosof. Nabi atau Rasul dapat berkomunikasi dengan akal Kesepuluh karena pemberian Tuhan. Sedangkan filosof dapat mengadakan komunikasi dengan akal Kesepuluh atas usahanya sendiri.
Selain itu karya al-farabi yang tidak kalah pentingnya adalah karya pendamai. Yaitu suatu karya yang membahas tentang karya Plato dan Aristoteles. Dimana karya Plato dan Aristoteles banyak yang saling bertentangan. Kemudian al-farabi mencoba mengkompromikan diantara karya keduanya.


[1] Harun Nasution, Filsafat dan mistisme dalam Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1983), hlm. 26
[2] Ahmad Syadali, Mudzakir, Filsafat Umum, (Bandung: pustaka Setia, 2004), hlm. 167
[3] Amroeni Drajat, Filsafat Islam, (jakarta: Penerbit Erlangga, 2006) hlm. 26
[4] Mudzakir, op. Cit., hlm. 168
[5] Drajat, op. Cit., hlm. 26
[6] Harun Nasution, op. Cit., hlm. 26
[7] Mudzakir, op. Cit., hlm. 168
[8] Drajat, op. Cit., hlm. 27
[9] Ibid., hlm. 28
[10] Ibid., hlm. 31
[11] Ibid., hlm. 33
[12] Ibid., hlm. 34
[13] Ibid., hlm. 35
[14] Harun Nasution, op. Cit., hlm. 32
[15] Mudzakir, op. Cit., hlm. 169
[16] Ibid., hlm. 170
[17] Harun Nasution, op. Cit., hlm. 32
[18] Ibid., hlm. 32
[19] Mudzakir, op. Cit., hlm. 171
[20] Ibid., hlm. 172
[21] Ibid., hlm 172
Share:

Sejarah dan Perkembangan Akhlak



BAB I
PENDAHULUAN

1.    Latarbelakang
Membahas tentang akhlak, tidak pernah lepas dari perilaku manusia. Karena akhlak sudah ada sejak manusia itu dilahirkan. Mulai dari manusia yang pertama kali, yaitu Nabi Adam as sampai sekarang ini. Baik buruknya akhlak seseorang akan terliat dari bagaimana perilaku mereka. Tentunya akhlak seseorang akan mempengaruhi kedudukan mereka dalam masyarakat luas serta di hadapan Allah Swt.
Akhlak merupakan pembeda antara manusia dengan makhluk lain. Karena manusia tanpa akhlak, akan kehilangan derajatnya sebagai makhluk Allah yang paling mulia. Kita dapat melihat dari firman Allah Swt. Dalam surat At- Tin ayat 4-6 yang artinya:
Sesungguhnya kami telah menciptkan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian kami kembalika dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka). Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal soleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.
Karena akhlak sudah ada sejak manusia pertama kali, yaitu Nabi Adam as. Tentu akhlak memiliki sejarah yang luar biasa. Pertumbuhan dan perkembangannya pun tentu sangat menarik untuk kita pelajari. Mulai dari ilmu akhlak di luar Islam, akhlak bangsa Ibrani, akhlak dalam ajaran Islam serta akhlak sebelum Islam. Dimana memiliki pemikir-pemikir yang berbeda setiap perkembangannya.

2.    Rumusan  masalah
A.    Apa pengertian sejarah ilmu akhlak?
B.    Bagaimana Perkembangan ilmu akhlak di luar Islam?
C.   Bagaimana akhlak bangsa Ibrani?
D.   Bagaimana akhlak sebelum Islam datang?
E.    Bagaimana akhlak dalam agama Islam?



3.    Tujuan
A.    Untuk mengetahui pengertian sejarah ilmu akhlak
B.    Untuk mengetahui perkembangan ilmu akhlak di luar Islam
C.   Untuk memahami akhlak bangsa Ibrani
D.   Untuk mengetahui akhlak sebelum Islam datang
E.    Untuk mengetahui bagaimana akhlak berkembang dalam Islam



BAB II
PEMBAHASAN

1.    Pengertian dan Sejarah Ilmu Akhlak
Sebelum memcari pengertian sacara keseluruhan, terlebih dahulu kita mencari devinisi kata perkata. Sejarah adalah peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau. Pertumbuhan adalah tumbuh terus-menerus, bercabang dan sepanjang waktu. Ilmu ialah pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara sistematis menurut metode-metode tertentu yang digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu dibidang pengetahuan itu. Akhlak adalah budi pekerti, tingkah laku.[1]
Sejarah pertumbuhan ilmu akhlak adalah suatu peristiwa perkembangan pengetahuan tentang tingkah laku seseorang melalui beberapa metode yang disusun secara sistematis dari zaman ke zaman. Sejarah ilmu akhlak yaitu sejarah yang mempelajari batas antara baik dan buruk, antara terpuji dan tercela, tentang perkataan atau perbuatan manusia lahir dan batin.
Akhlak dalam arti bahasa, sebenarnya sudah dikenal manusia di atas permukaan bumi ini yaitu apa yang disebut dengan istilah adat-istiadat (tradisi) yang dihormati, baik dalam kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat. Dalam keadaan terputusnya wahyu (zaman fatrah) maka tradisi itulah yang dijadikan tolak ukur dan alat penimbangan norma pergaulan kehidupan manusia, terlepas dari segi apakah itu baik atau buruk menurut setelah datang wahyu.
Bangsa Arab sebelum Islam telah memiliki dalam kadar yang minimal pemikiran dalam bidang akhlak. Pengetahuan tentang berbagai macam keutamaan dan mengerjakannya, walaupun nilai yang tercetus lewat syair-syairnya belum sebanding dengan kata-kata hikmah yang diucapkan oleh filosof-filosof zaman kuno. Sewaktu Islam datang yang dibawa oleh Muhammad SAW, maka Islam tidak menolak setiap kebiasaan yang terpuji yang terdapat pada bangsa Arab, Islam datang kepada mereka membawa akhlak yang mulia yang menjadi dasar kebaikan hidup seseorang, keluarga, umat manusia serta alam seluruhnya. Setelah Al-qur’an turun maka lingkaran bangsa Arab dalam segi akhlak dari segi sempit menjadi luas dan berkembang, jelas arah dan sasarannya.

2.    Ilmu Akhlak di Luar Islam
Ilmu akhlak di luar Islam adalah pengetahuan tentang akhlak yng tidak didasarkan pada Al-qurqn dan hadis. Ternyata banyak akhlak yang tidak berdasarkan Al-quran dan hadis diantaranya yaitu:

A.    Akhlak pada bangsa Yunani
Pertumbuhan ilmu akhlak pada bangsa Yunani baru terjadi setelah munculnya orang-orang yang bijaksana (500-450 SM). Sedangkan sebelum itu di kalangan bangsa Yunani tidak dijumpai pembicaraan mengenai akhlak, karena pada masa itu perhatian mereka tercurah pada penyelidikannya mengenai alam.[2]
   Dasar yang digunakan para pemikir Yunani dalam membangun ilmu akhlak adalah pemikiran filsafat tentang manusia. Ini menunjukkan bahwa ilmu akhlak yang mereka bangun lebih bersifat filosofis. Pandangan dan pemikiran filsafat yang dikemukakan para filosof Yunani berbeda-beda. Tetapi substansi dan tujuannya sama, yaitu menyiapkan angkatan muda bangsa Yunani, agar menjadi nasionalis yang baik, merdeka, dan mengetahui kewajiban mereka terhadap tanah airnya.[3]
Berikut ini adalah filsuf Yunani yang pertama kali mengemukakan pemikiran dibidang akhlak.
1)    Socrates (469-399 SM)
Socrates dipandang sebagai orang yang merintis ilmu akhlak, karena ia pertama kali yang berusaha sungguh-sungguh membentuk hubungan manusia dengan dasar ilmu pengetahuan. Dia berpendapat bahwa akhlak dan pola hubungan itu tidak akan terjadi kecuali bila didasarkan pada ilmu pengetahuan. Sehingga ia menyatakan bahwa keutamaan itu adalah ilmu.[4] Sesudah Socrates, lahirlah beberapa paham yang mengenai akhlak. Paham-paham itu macam-macam sejak zaman itu hingga sekarang ini. Golongan yang terpenting dan lahir sesudah Socrates adalah “Cynics” dan “Cyrenics”
2)    Cynics Dibangun oleh Antithenes (444-370 SM)
Menurut golongan ini bahwa ketuhanan itu bersih dari segala kebutuhan dan sebaik-baik manusia adalah orang yang berperangai ketuhanan. Mereka banyak mengurangi kepentingan dunia, rela menerima apa adanya, suka menanggung penderitaan, tidak suka kemewahan, dan menjahui kelezatan. Hal ini mereka lakukan karena dengan cara ini lah ia selalu ingat pada Tuhan. Sebaliknya hidup bergelimang dengan kemewahan akan membawa orang lupa pada Tuhan.

3)    Cyrenics (450-341SM)
Menurut golongan ini mencari kelezatan  dan menjahui kepedihan adalah satu-satunya tujuan hidup yag benar dan perbuatan yang utama adalah perbuatan yang tingkat kelezatannya lebih besar dari pada kepedihan.

4)    Plato (427-347 SM)
Plato berpendapat bahwa di dalam jiwa itu ada kekuatan bermacam-macam, dan keutamaan itu timbul dari perimbangan kekuatan itu. Meurutnya pokok-pokok keutamaan itu ada empat yaitu,
1)    Hikmat kebijaksanaan;
2)    Keberanian;
3)    Keperwiraan;
4)    Keadilan.

5)    Aristoteles (394-322 SM)
Ia membangun sebuah paham yang khas, pengikutnya dinamakan peripatetics. Dia berpendapat bahwa tujuan terakhir yang dikehendaki oleh manusia mengenai segala perbuatan ialah “bahagia”, jalan untuk mencapai bahagia adalah dengan menggunakan akal sebaik-baiknya. Menurut Aristoteles tiap-tiap keutamaan adalah tengah-tengah antara dua keburukan. Sebagai cotoh dermawan adalah tengah-tengah diantara boros dan kikir.




6)    Stoics dan Epicurius (322-240 SM)
Keduanya berbeda pendapat dalam mengemukakan pandangannya mengenai kebaikan. Stoics sebagaimana paham Cynics. Pendapatnya ini banyak diikuti oleh filsafat Yunani dan Romawi. Sedangkan Epicurius mendasarkan pemikirannya pada paham Cyrenics.

B.    Akhlak Agama Nasrani
Pada akhir abad ketiga masehi, tersiar agama Nasrani di Eropa. Agama itu dapat membawa pokok-pokok ajaran akhlak yang tersebut dalam Taurat dan Injil. Menurut agama ini bahwa Tuhan adalah sumber akhlak. Tuhan yang membentuk patokan-patokan akhlak yang harus dipelihara dan dilaksanakan dalam kehidupan sosial. Agama ini mengatakan bahwa yang disebut baik adalah perbuatan yang disukai Tuhan serta berusaha melaksanakannya dengan baik.

C.   Akhlak Bangsa Romawi
Pada abad pertengahan gereja memerangi filsafat Yunani dan Romawi, serta menentang penyiaran ilmu dan kebudayaa kuno. Mempergunakan filsafat diperkenankan sekedarnya untuk meenguatkan keyakinan-keyakinan agama, batas-batasnya dan ketertibannya. Pada masa ini filsafat yang menentang agama Nasrani di buang jauh-jauh. Ajaran akhlak yang lahir di Eropa pada abad pertengahan itu adalah ajaran akhlak yang dibangun dari peradaban antara ajaran Yunani dan Nasrani.

D.   Akhlak Bangsa Arab
Bangsa Arab pada zaman jahiliah, bangsa Arab tidak memiliki ahli filsafat yang mengajak pada aliran paham tertentu di kalangan bangsa Yunani, seperti Epicurius, Zeno, Plato, dan Aristoteles.  Pada waktu itu bangsa Arab hanya memiliki ahli hikmah dan ahli syair yang memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran.
Setelah sinar islam memancar, maka suasana bagaikan sinar matahari menghapiska kegelepan malam. Bangsa Arab kemudian tampil maju menjadi bangsa yang unggul disegala bidang, berkat akhlakul karimah yang diajarkan islam.
Allah menjadikan manusia dalam betuk suasana yang baik dan memberikan jalan baik yang harus ditempuh. Allah menetapkan juga beberapa keutamaan seperti benar dan adil, menjadikan kebahagiaan di dunia dan kenikmatan di akhirat sebagai pahaala bagi orang yang mengikutinya.

E.    Akhlak Agama Hindu
Akhlak agama Hindu berdasarkan kitab Weda (1500 SM), selain mengandung dasar-dasar ketuhanan juga mengajarkan prinsip akhlak Hindu yang wajib dipegang teguh oleh pengikutya. Prinsip-prinsip tersebut adalah patuh dan disiplin pada pelaksanaan upacara ajarannya sebagaimana mestinya. Seseorang yang bisa melakukan kewajiban tersebut dengan smpurna maka dapat dipandang sebagai orang yang tercapai derajat kemuliaan yang sesungguhnya. Sebaliknya orang yang melalaikan hal tersebut, kurang hati-hati atau salah dalam melaksanakan upacara keagamaan, berarti dosa.
Tanda-tanda yang dipandag baik dalam akhlak agama Hindu adalah
a)    Kemerdekaan;
b)    Kesehatan;
c)    Kekayaan;
d)    Kebahagiaan.
Hal itu dapat dicapai jika seseorang patuh melaksanakan upacara keagamaan dengan baik dan sempurna.

3.    Akhlak Bangsa Ibrani
Bangsa Ibrani yang populer dengan sebutan bani Israil, mengaku bahwa berdasarkan akhlak mereka kepada ajaran yahudi yang disandarkan kepada ajaran Nabi Musa yang tersebut dalam kitab Taurat. Bangsa ini pernah mendapat nikmat yang lebih dari bangsa lain, karena banyak Nabi-nabi yang dilahirakan dari bangsa bani Israil.
Mereka telah dibekali dengan prinsip-prinsip akhlak yang bersumber dari ajaran Allah melalui Rasul-Rasul, dan mereka mengaku sebagai bangsa berakhlak yang berdasarkan ajaran Allah. Tetapi mereka keluar dari garis akhlaqul karimah. Allah menyiksa mereka dengan penderitaan yang luar biasa, lebih dari pada yang dialami bangsa lain. Sekitar tahun 586 SM Yerusalem ibukota bani Israil dihancurka oleh Nebukadnezar dan orang-orang Yahudi ditawan. Tahun 539 SM kerajaan Babilonia dikalahkan oleh raja Persia, Cyrus dan orang-orang Yahudi terlepas dari penindasan. Pada tahun 520 SM dapatlah bani Israil membangun kembali Yerusalem. Namun ketik tahun 70 SM titus memasuki Yerusalem dan memusnahkan kembali Yerusalem yang sudah dibangun oleh orang-orang bani Israil.

4.    Akhlak Sebelum Islam
Akhlak sebelum Islam maksudnya ialah akhlak yang dilmiliki oleh orang pada masa jahiliyah, yaitu zaman kebodohan sebelum Islam lahir. Pada waktu itu penduduk Arab menyembah berhala dan hanya beberapa tempat saja yang beragama Yahudi dan Kristen. Mereka hidup tanpa mengenal adanya Allah. Mereka hanya memepercayai dan menyembah berhala, menyembah matahari, bulan, dan menyembah bintang.
Dalam zaman yang amat gelap tersebut bangsa Arab mempunyai sifat yang berani, ulet, kuat ingatan, mempunyai perasaan, tahu harga diri, dan ingin kasih sayang. Namun sifat yang baik tersebut dikalahkan ole sifat yang buruk. Selama zaman ini, bangsa Arab diliputi dengan kezaliman. Para wanita tidak diperlakukan sebagai manusia. Tidak ada batas bagi laki-laki berapapun mereka beristri. Jika seorang meniggal, maka istrinya yang banyak tersebut termasuk harta pusaka bagi ahli warisnya.
Zaman jahiliyah ini merupakan zaman yang akhlaknya dalam keadaan yang memprihatinkan. Akhlak zaman jahiliyah ini hampir sama sekali dengan binatang. Namun jika dibandingkan dengan binatang, sungguh binatang lebih baik, sebab binatang tidak mempunyai akal pikiran tetapi ia mempunyai rasa kasih sayang yang tinggi.
Manusia mempunyai kelabihan tersendiri dibandingkan dengan makhluk ciptaan yang lainnya. Manusia adalah makhluk yang paling sempurna dan mulia. Namun kenyataannya manusia zaman ini justru barakhlak buruk.
Ada beberapa fenomena jahiliyah yang dibenci Rasulullah, diantaranya:
a)    Berdoa meminta kepada orang yang dianggap saleh.
b)    Mengikuti orang berilmu yang fasik dan ahli badah yang sesat lagi jahil.
c)    Percaya sepenuh hati pada sihir
d)    Menyucikan makhluk selayaknya sang khalik
e)    Munafik dalam akidah
5.    Akhlak Dalam Ajaran Islam
Akhlak dalam ajaran lslam berdasarkan Alquran dan hadis. Ilmunya disebut ilmu akhlak yaitu suatu pengetahuan yang mempelajari tentang akhlak manusia. Akhlak dalam ajaran Islam merupakan jalan hidup manusia yang paling sempurna dan menuntun umat kepada kebahagiaan dan kesejahteraan. Semua itu terkandung dalam firman Allah dan sunah Rasul.
Sesungguhnya Allah tidak memaksakan suatu perintah atau mencegah dengan suatu larangan. Tetapi Allah menjadikan kabaikan dunia tergantung akhlak mausia tentang keadilan, kebenaran, kejujuran dan menjadikan kerusakan dunia karena sebaliknya. Tujuan dari setiap tingkah laku dalam Islam adalah mendapat ridha Allah.
Ahli pikir islam yang terkemuka yang giat menyuarakan akhlak Islam menerangkan sebagai berikut.
A.   Imam Al-Ghazali (1058-1111 M)
Dengan kitabnya yang mashur “Ihya’ ‘Ulumuddin”, mengungkap pandangan akhlak sebagai berikut:
1)    Akhlak berarti bentuk jiwa.
2)    Akhlak yang baik dapat mengadakan perimbangan antara tiga kekuatan dalam diri manusia, yaitu kekuatan berpikir, hawa nafsu, dan amarah.
3)    Akhlak itu adalah kebiasaan jiwa yang tetap terdapat dalam diri manusia yang dengan mudah dan tidak perlu berpikir menumbuhkan perbuatan dan tingkah laku  manusia.
4)    Tingkah laku seseorang itu lukisan hatinya.
5)    Kepribadian pada dasarnya dapat menerima suatu pembentukan, tetapi lebih codong kepada kebajikan dibanding kejahatan.
6)    Jiwa itu dapat dilatih, dikuasai, diubah kepada akhlak yang mulia dan terpuji.







B.   Al-Farabi (879-950)
Ahli pikir Islam yang menitik beratkan pandagan akhlak pada masalah kenegaraan.  Pandangan-pandangan akhlak yang disebutkan adalah sebagaii berikut.
1)    Negeri yang utama ialah negeri yang memperjuangkan kemakmuran dan kebahagiaan bagi masyarakatnya.
2)    Untuk kepentingan itu, haruslah berpedoman pada contoh teraturnya hubungan antara Allah dengan alam semesta dan antara isi alam satu dengan yang lainnya.
3)    Timbulnya masyarakat karena tiga macam:
a)    Karena ada kekuatan seseorang yang kuat seperti raja atau panglima yang memimpin dan mempersatukan masyarakat.
b)    Karena persamaan keturunan dan pertalian darah diantara warganya.
c)    Karena hubungan perkawinan atau keluarga.

C.   Ibnu Bayah (880-975 M)
Beberapa ilmu pengetahuan yang dikuasainya, khususnya dalam masalah akhlak, ia memunyai pandagan sebagai berikut.
1)     Faktor rohanilah yang menggerakan manusia melakukan perbuatan baik ataupun buruk.
2)    Sebagian akhlak manusia ada yang sama denagan akhlak hewan, misalnya sifat beraninya macan, sombongnya merak, sifat malu, rakus, dan patuh dari berbagai binatang. Manusia yang tidak mengindahkan sifat kesempurnaan berarti hanya mencukupkan dirinya pada sifat-sifat hewani saja dan keutamaannya menjadi hilang.



BAB III
PENUTUP

1.    Kesimpulan
Sejarah pertumbuhan ilmu akhlak adalah peristiwa perkembangan pengetahua tentang tingka laku seseorang melalui berbagai macam metode yang tersusun secara sistematis.  Akhlak diluar islam berarti ilmuu akhlak yang tidak berdasarkan Alquran dan Hadis. Dimana akhlak diluar agama Islam ini terdiri dari akhlak bangsa Yunani, agama Nasrani, akhlak bangsa Romawi dan lain-lain.
Adapun akhlak bangsa Ibrani itu adalah sebutan populern dari Bani Israil. Yang mana akhlakk mereka berdasarkan ajaran Yahudi yang disandarka kepada nabi Musa yang tersebut dalam kitab Taurat. Sebelum Islam datang, manusia bereda pada masa jahiliyah, yaitu zaman kebodohan. Di zaman jahiliyah bangsa Arab merupakn penduduk yang menyembah berhala.
Kemudian datanglah ajaran agama Islam yang menyempurnakan agama-agama sebelumnya. Agama yang membawa ke jalan yang benar dan satu-satunya agama yang diridhai Allah. Dimana akhlak manusia dalam ajaran Islam berdasarkan Alquran dan Hadis, yang disampaikan dari Nabi kepada umatnya.

2.    Saran
Setelah mempelajari sejarah dan perkembangan ilmu akhlak ini seharusnya kita sadar tentang akhlak kita. Mencoba merubah untuk menjadi lebih baik lagi. Karena sebagai orang Islam kita tidak boleh kalah dengan orang-orang diluar Islam seperti dalam sejarah ini.









DAFTAR PUSTAKA

Amin, Ahmad. 1983. Etika (Ilmu Akhlak). Jakarta: Bulan Bintang
Abdullah, Yatimin. 2007. Studi Akhlak dalam Persepektif Alquran. Jakarta:
Amzah
Abudiinata. 1997. Akhlak Tasawuf. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
AR, Zahruddin dkk. 2004. Pengantar Studi Akhlak. Jakarta: PT Grafindo Perada





[1] Departemen Pendidikan, Kamus Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1997), hlm. 891
[2] Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000), hlm. 59
[3] Mustafa, Akhlak Tasawuf, (Bandung: Pustaka Setia, 1997), hlm. 41
[4] Ibid., hlm. 60
Share:

Socialize

Random posts

3/randomposts

BTemplates.com

3/recentposts
Diberdayakan oleh Blogger.

Total Pageviews

Cari Blog Ini

Blog Archive

Breaking

Facebook

[recent]
banner image