Random Posts

randomposts

Minggu, 28 April 2013

Al-Farabi


BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latarbalakang
Sejarah merupakan suatu hal yang tidak boleh dilupakan. Kita harus mempelajari dan mengenangnya. Begitupun dengan sejarah filsafat Islam. Di mana di dalam filsafat islam ada beberapa tokoh yang memiliki andil dalam memaparkan filsafatnya. Di sini saya akan membahas salah satu filosuf dalam filsafat Islam yaitu Al-Farabi.
Beliau hidup pada abad ke 9-10 M. Karya-karyanya sangat mengagumkan dan dikenang sampai saat ini. Bahkan saat ini banyak filosuf modern yang mengadopsi dari filsafat Al-Farabi. Dalam sejarahnya, Al-Farabi juga menjelaskan tentang Teori Kenabian dan juga membuat karya pendamai antara filsafat Plato dengan Aristoteles.


B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana riwayat hidup  Al-farabi?
2.      Apa saja karya-karya Al-Farabi?
3.      Bagaimana Teori Kenabian yang telah dikemukakan oleh Al-Farabi?
4.      Apa karya pendamai antara filsafat Plato dengan Aristoteles yang dibuat oleh al-farabi?

C.    Tujuan
1.      Untuk mengetahui riwayat hidup Al-Farabi.
2.      Untuk mempelajari karya-karya Al-Farabi.
3.      Agar mengetahui tentang Teori kenabian.
4.      Untuk mengetahui karya pendamai yang telah dibuat oleh al-farabi.


D.    Kegunaan
1.      Dengan mengetahui Riwayat Al-Farabi, kita akan sadar bahwa seorang muslim juga dapat mempelajari dan menekuni filsafat.
2.      Kita dapat mengaplikasikan filsafat-filsaft Al- Farabi dalam kehidupan sehari-hari.
  


BAB II
PEMBAHASAN

AL-FARABI
A.    Riwayat Hidup Al-Farabi
Al-Farabi lahir di Wasij dekat Farab atau Transoxania pada tahun 870 M.[1] Nama lengkapnya yaitu Abu Nasr Muhammad bin Muhammad bin Tharkhan Al-Farabi.[2] Sebutan Al-Farabi juga diambil dari nama kampung kelahirannya tersebut. Berdasarkan informasi yang telah terhimpun, Al-farabi hidup dalam keluarga seorang jendral Turki.[3] Pendidikan dasar al-farabi dimulai dengan mempelajari dasar-dasar ilmu agama dan bahasa. Ilmu Agama meliputi Al-quran, hadis, tafsir dan fikih. Kemudian bahasa meliputii bahasa Arab, Persia dan Turki. Namun ia tidak mengenal bahasa Yunani dan Suryani, yaitu bahasa-bahasa ilmu pengetahuan dan filsafat pada saat itu.[4] Setelah dari farab, ia kemudian pindah ke Bagdad, pusat ilmu pengetahuan pada waktu itu. Di sana ia belajar kepada Abu Bishr Matta Ibn Yunus dan tinggal di Bagdad selama 20 tahun. Selama itu ia menggunakan waktunya untuk mengarang, memberikan pelajaran dan mengulas buku-buku filsafat. Muridnya yang terkenal pada masa itu antara lain Yahya dan ‘Aidi. 
Kemudian ia pindah ke Aleppo dan tinggal di Istana Saif Al-Daulah. Ia memusatkan perhatian pada ilmu pengetahuan dan filsafat. Dibidang filsafat ia melahap habis karya-karya Aristoteles. Sampai-sampai ia membaca de Anima Aristoteles sebanyak 200 kalli dan physics 40 kali. Berkat keseriusannya mendalami karya-karya Aristoteles, ia pun disebut sebagai Guru Kedua.[5] Ia berkeyakinan bahwa filsafat tidak boleh dibocorkan dan disampaikan ke tangan orang awam. Oleh karena itu filosuf-filosuf harus menuliskan pendapat atau falsafat  mereka dalam gaya bahasa yang gelap. Agar jangan diketahui oleh sembarang orang. Dengan demikian iman serta keyakinan seseorang tidak akan kacau.[6]

B.     Karya-karya Al-Farabi
Al-Farabi mempunyai pengetahuan yang luas. Ia mendalami ilmu yang ada pada masanya termasuk filsafat. Ia mendefinisikan filsafat sebagai ilmu yang menyelidiki hakikat yang sebenarnya dari segala yang ada.[7] Karya-karya Al-farabi beredar di timur dan Barat pada abad 10 dan 11 M, sebagaimana terlihat terjemahannya ke bahasa Yunani dan Latin hingga memengaruhi cakrawala peikiran sarjana Yahudi dan Kristen.[8] Diantara karya dari Al-farabi pada masa itu antara lain:
1.      Ontologi
Al-farabi menitik beratkan pemikirannya pada konsep wujud. Sesuatu yang ada namun sulit didefinisikan dengan tepat, mengingat wujud lebih dahulu ada sebelum kosep tentang segalanya ada. Wujud dalam pandangan al-farabi dibedakan kedalam dua kategori, yaitu wajib dan  mukmin. Wajib al wujud adalah berdiri sendiri, yang mesti ada dan kita tidak dapat membayangkan ketiadaannya, misalnya Tuhan. Sedangkan yang mukmin al wujud ialah wujud yang menjelaskan berkat wujud yang lainnya. Ketiadaannya dapat dimengerti oleh akal sehat, misalnya alam semesta ini.
Semua yang ada bersifat potensial dan aktual. Wujud potensial berkemampuan menjadi aktual, sebab semua benda sebelum menjadi benda aktual bersifat mukmin, karena masih berwujud potensial. Sedang wujud aktual adalah wujud yang ada secara nyata.[9] Al-farabi membagi wujud ke dalam substansi dan aksiden, serta esensi dan aksistensi. Menurutnya, substansi adalah wujud yang ada pada sendiri, sedangkan aksiden selalu memerlukan substansi yang menjadi dasar keberadaannya. Esensi merupakan inti keberadaan sesuatu dan eksistensi adalah aktualisasi dari esensi.
2.      Metafisika Teologis
Dalam suatu karyanya, al-farabi manyatakan bahwa Tuhan dapat diketahui dan tidak diketahui, Tuhan nampak sekaligus tersembunyi. Pengetahuan terbaik tentang Tuhan ialah memahami bahwa Dia adalah yang tidak dapat dijangkau. Manusia tidak dapat mengetahui Tuhan karena keterbatasan kapasitas intelaktualnya.[10]
Menurut al-farabi, Tuhan bukan pesona yang tidak dapat dipahami sama sekali melalui penalaran. Al-farabi membuktikan aksistensi Tuhan dengan mengajukan beberapa argumen. Pertama, bukti dari teori gerak. Semua yang ada di alam semesta selalu bergerak yang pada gilirannya bermuara pada satu hal yang pasti yaitu adanya sesuatu yang tidak bergerak tetapi bertindak sebagai penggerak. Kedua, penyebab efesiensi. Ketiga argumen mukmin al-wujud dan wajib al wujud.
Alfarabi juga memberi sifat kepada Tuhan, dalam artian bahwa manusia dapat mengetahui Tuhan melalui ciptaan-Nya. Ia juga mengemukakan sifat Tuhan seperti Esa, sederhana, tidak terbatas, hidup dan sebagainya. Tuhan itu sederhana, karena Dia tidak tersusun dari wujud fisik dan metafisik. Tuhan itu satu. Jika Dia lebih dari satu berarti Tuhan terdiri atas beberapa komponen.

3.      Kosmologi
Tuhan adalah keniscayaan dan keberadaan alam semesta juga kebenaran yang tidak dapat disangkal. Dalam menjabarkan masalah Tuhan, al-farabi mengedepankan teori emanasi. Dalam karyannya yang berjudul Kitab Ara Ahl al-Madinah al-Fadhilat, al-farabi menjelaskan proses emanasi sebagai berikut: mula-mula akal berpikir tentang diri-Nya, dan dari pemikiran itu timbul wujud lain. Tuhan merupakan wujud pertama, dan dari pemikiran itu timbul lah wujud Kedua yang juga mempunyai substansi yang disebut Akal Pertama yang bersifat imateri. Akal pertama berpikir tantang Tuhan selaku wujud pertama, dan dari pemikiran itu melahirkan wujud Ketiga yang disebut akal Kedua. Wujud Kedua/ akal Pertama selanjutnya berpikir tentang dirinya dan memunculkan langit. Wujud Ketiga/ Akal Kedua berpikir tentang wujud Pertama yang kemudian menimbulkan wujud Keempat yang disebut akal Ketiga. Ketika wujud Ketiga/ Akal Kedua memikirkan dirinya sehingga memunculkan bintang-bintang yang kukuh. Wujud Keempat/ Akal Ketiga memikirkan wujud Pertama yang kelak memunculkan wujud Kelima/ Akal Keempat. Ketika memikirkan dirinya, timbul lah bola Saturnus. Wujud Kelima/ Akal Keempat memikirkan wujud Pertama meninbulkan wujud Keenam/ Akal Kelima. Ketika memikirkan dirinya, terbantuklah bola Yupiter. Wujud Keenam/ Akal Kelima yang berpikir tentang wujud Pertama melahirkan wujud Ketujuh/ Akal Keenam. Ketika memikirkan diri sendiri, timbul bola Mars. Wujud Ketujuh/ Akal Keenam memikirkan wujud Pertama memunculkan Wujud Kedelapan/ Akal Ketujuh.  Ketika memikirkan diri sendiri, lalu timbul bola matahari. Wujud Kedelapan/ Akal Ketujuh memikirkan wujud Pertama yang selanjutnya melahirkan Wujud Kesembilan/ Akal Kedelapan. Ketika memikirkan diri sendiri, bola Venus pun tercipta darinya. Wujud Kesembilan/ Akal Kedelapan memikirkan wujud Pertama, sehingga muncul wujud Kesepuluh/ Akal Kesembilan. Ketika memikirkan diri sendiri, terciptalah bola Merkuri. Wujud Kesebelas/ Akal Kesepuluh memikirkan dirinya sendiri, memunculkan bola Bulan.[11]
Ketika proses pemikiran sampai pada wujud Kesebelas/ Akal Kesepuluh, kemunculan akal-akal berikutnya pun terhenti. Dari akal Kesepuluh itu terciptalah Bumi, ruh-ruh, serta materi pertama yang menjadi dasar unsur api, udara, air, dan tanah. Jadi dengan demikian, terdapat sepuluh akal dan sembilan lahit yang tetap kekal berputar di sekitar bumi.

4.      Psikologi
Jiwa manusia memancar dari akal sepuluh.[12] Menurut al-farabi, di dalam jiwa terkandung tiga daya utama antara lain daya gerak, mengetahui dan berpikir. Daya gerak meliputi makan, memelihara dan berkembang. Daya mengetahui meliputi daya rasa dan imajinasi. Sedangkan daya berpikir meliputi akal praktis dan akal teoris.
Dari tiga daya tersebut, hanya daya berpikir yang memiliki tingkatan, yaitu:
a.       Akal potensial, yaitu akal yang baru memiliki potensi berpikir dalam arti kemampuan melepaskan arti-arti atau bentuk dari materinya saja.
b.      Akal aktual, yaitu suatu akal yang telah mampu melepaskan arti dari materinya, dan memiliki wujud yang sesungguhnya dalam akal. Bukan lagi dalam bentuk potensial, namun dalam bentuk aktual.
c.       Tingkat akal mustafad, yaitu akal yang Cuma bisa menangkap bentuk. Letak perbedaan antara akal mustafad dengan akal aktual yaitu pada daya tangkap terhadap sesuatu. Jika akal aktual hanya mampu menangkap arti yang terlepas dari materi, maka akal mustafad sanggup menangkap bentuk tanpa terikat dengn materi, seperti Tuhan dan Akal Sepuluh.

Akal potensial menangkap bentuk dari sesuatu yang dapat diserap oleh pancaindera, dan akal aktual menangkap arti dan konsep. Sedangkan akal mustafad memiliki daya lebih tinggi sehingga mampu berkomunikasi atau menangkap inspirasi dari akal yang lebih tinggi, yaitu akal Sepuluh. Ini adalah akal aktif, di dalamnya terdapat bentuk segala wujud. Hubungan manusia dengan akal aktif seperti hubungan antara mata dengan matahari. Mata dapat melihat karena menerima cahaya matahari.[13]

5.      Filsafat Politik
Dalam pemkiran politik, al-farabi telah menulis karya tersendiri tentang kota Utama. Kota digambarkan sebagai seonggok tubuh manusia yamg memiliki anggota dan fungsi masing-masing. Kepala memegang posisi terpenting, karena bertugas mengatur anggota badan yang lain. Kepala harus memiliki kemampuan akal mustafad yang dapat mengkomunikasikannya dengan akal Sepuluh selaku pengatur bumi. Sebaik-baik kepala adalah Nabi dan Rasul. Kepala yang serupa inilah yang dapat mengadakan peraturan-peraturan yang baik.[14]
Manurut al-farabi, masyarakat terdiri dari dua macam yaitu masyarakat sempurna dan tidak sempurna. Masyarakat sempurna dibagi ke dalam tiga tingkatan: masyarakat besar, yaitu dunia seluruhnya; masyarakat pertengahan, yang terdiri dari sebagian dunia atau teritorial; dan masyarakat kecil yang hanya terdiri atas satu kota. Perkembangan dari tidak sempurna menjadi sempurna menurut Al-farabi bertingkat-tingkat. Mula-mula masyarakat manusia berupa masyarakat yang tersebar, lalu menjadi masyarakat desa dan kampung. Kemudian menuju ke masyarakat kota yang sempurna berpemerintahan.[15]
Pokok filsafat politik kenegaraan al-farabi ialah  autokrasi dengan seorang raja yang berkuasa mutlak mengatur negara.  Menurut al-farabi, negara yang utama ialah kota yang warganya tersusun menurut susunan alam besar atau menurut susunan alam kecil. Di mana di dalam negara yang terpenting adalah kepala negara. Adapun negara yang tidak baik dibagi dua macam yaitu negara fasik dan negara bodoh. Negara fasik adalah negara yang anggotanya berpengetahuan sama dengan anggota Madinah Fadilah, tetapi kelakuannya seperti anggota negara bodoh. Sedangkan negara bodoh sendiri adalah negara yang anggotanya hanya mencari kesenangan jasmani saja.[16]
Khusus mengenai etika kenegaraan ia mengemukakan suatu ide yang mengemukakan bahwa dalam tiap keadaan ada unsur-unsur pertentangan. Hal itu seperti dalam alam, yang kuat berarti lebih sempurna dari yang lemah. Dalam politik kenegaraan orang harus mengambil teladan dari naluri hewani itu. Sebab keadilan itu baru bisa dilaksanakan bila kita dalam kemenangan.

C.    Teori Kenabian
Akal yang sepuluh itu dapat disamakan malaikat dalam faham Islam. Filosof dapat mengetahui hakekat karena dapat berkomunikasi dengan akal Kesepuluh. Nabi atau Rasul demikian pula dapat menerima wahyu karena mempunyai kesanggupan mengadakan komunikasi dengan Akal Kesepuluh.[17] Tapi kedudukan Rasul lebih tinggi daripada Filosof. Nabi atau Rasul dapat berkomunikasi dengan akal Kesepuluh karena pemberian Tuhan. Sedangkan filosof dapat mengadakan komunikasi dengan akal Kesepuluh atas usahanya sendiri. Rasul atau Nabi diberi daya imajinasi yang begitu kuat sehingga dapat berhubungan dengan akal Kesepuluh tanpa latihan yang dijalani para Filosof.[18]
Oleh karena filosof dan Nabi atau Rasul mendapat pengetahuan mereka dari sumber yang satu yaitu akal Kesepuluh. Maka pengatahuan falsafat dan wahyu yang diterima tidak bisa bertentangan. Mukjizat terjadi karena hubungan dengan akal Kesepuluh dapat mewujudkan hal-hal yang bertentangan dengan kebiasaan.

D.    Karya Pendamai Al-farabi
Suatu keistimewaan yang diraih al-farabi ialah tentang usaha yang ia lakukan dalam mengkompromikan perbedaan paham antara Aristoteles dengan Plato. Plato mengatakan bahwa alam nyata yang kita lihat ini hanyalah tiruan semata dari alam indra. Sedangkan Aristoteles mengatakan sebaliknya. Lalu Plato mengatakan bahwa alam dunia ini baru dan tidak abadi, maka sebaliknya Aristoteles berpendapat bahwa alam dunia ini qadim, sudah ada sejak semula dan abadi selama-lamanya.[19]
Dalam bukunya al-farabi membahas perbedaan antara filsafat Plato dan Aristoteles.
a.       Apakah dalam karangan Aristoteles itu terdapat pertentangan dalam dirinya sendiri?
b.      Apakah pendapat yang dikatakan orang pendapat Aristoteles itu sebenarnya pendapat orang lain?
c.       Apakah pertentangan Plato dan Aristoteles itu sungguh-sungguh merupakan pertentangan mutlak yang tidak mungkin disesuaikan lagi?
Persoalan pertama dijawab oleh al-farabi bahwa tidak mungkin pada seorang yang amat pandai seperti Aristoteles terdapat pertentangan dalam dirinya sendiri.[20]
Persoalan kedua dijawab oleh al-farabi bahwa kemungkinan pendapat yang diuraikan itu bukan lah pendapat aristoteles jauh sekali, sebab bagaimana pun filsafat Aristoteles sudah cukup termasyur di kalangan orang banyak.
Persoalan ketiga dijawab oleh al-farabi bahwa pertentangan yang ada diantara Plato dan Aristoteles itu janganlah dianggap sebagai pertentangan yang mutlak dan prinsipil, tetapi haruslah dianggap sebagai pertentangan yang relatif dan hanya dalam soal rincian saja.
Al-farabi mengatakan bahwa semua filsafat itu memikirkan kebenaran. Pada hakikatnya kebenaran filsafat pada prinsipnya adalah tidak berbeda. Demikian juga antara filsafat dan agama, keduanya sama-sama mimikirkan kebenaran.[21] Seandainya terdapat pertentangan pemikiran antara Plato dan Aristoteles tentu bukan perbedaan yang prinsipil, namun dalam masalah yang relatif.
Demikian usaha yang dilakukan al-farabi utuk mengkompromikan dua pendapat yang menurut anggapan banyak orang saling bertentangan. Banyak karangan yang ditinggalkan al-farabi, namun karangan tersebut tidak banyak dikenal seperti karangan ibnu Sina. Boleh jadi karena karangan al-farabi hanya berupa risalah, dan sedikit sekali yang berupa buku besar yang mendalam pembicaraannya. Kebanyakan karangannya telah hilang, dan masih ada kurang lebih 30 buah saja, ditulis dalam bahasa Arab.






BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Al-Farabi adalah seorang filosof Islam yang  lahir di Wasij dekat Farab atau Transoxania pada tahun 870 M. Nama lengkapnya yaitu Abu Nasr Muhammad bin Muhammad bin Tharkhan Al-Farabi. Pendidikan dasar al-farabi dimulai dengan mempelajari dasar-dasar ilmu agama dan bahasa. Setelah dari farab, ia kemudian pindah ke Bagdad, pusat ilmu pengetahuan pada waktu itu. Di sana ia belajar kepada Abu Bishr Matta Ibn Yunus dan tinggal di Bagdad selama 20 tahun. Selama itu ia menggunakan waktunya untuk mengarang, memberikan pelajaran dan mengulas buku-buku filsafat
Al-farabi dijuliki sebagai Guru Kedua karena karya-karyanya yang sangat monumental. Karya-karya al-farabi secara garis besar yaitu:
1.      Ontologi
2.      Metafisika Teologis
3.      Konsep Kosmologi
4.      Psikologi
5.      Filsafat politik
Al-farabi juga memaparkan tentang teori kenabian. Menurut al-farabi, Nabi atau Rasul demikian pula dapat menerima wahyu karena mempunyai kesanggupan mengadakan komunikasi dengan Akal Kesepuluh. Tapi kedudukan Rasul lebih tinggi daripada Filosof. Nabi atau Rasul dapat berkomunikasi dengan akal Kesepuluh karena pemberian Tuhan. Sedangkan filosof dapat mengadakan komunikasi dengan akal Kesepuluh atas usahanya sendiri.
Selain itu karya al-farabi yang tidak kalah pentingnya adalah karya pendamai. Yaitu suatu karya yang membahas tentang karya Plato dan Aristoteles. Dimana karya Plato dan Aristoteles banyak yang saling bertentangan. Kemudian al-farabi mencoba mengkompromikan diantara karya keduanya.


[1] Harun Nasution, Filsafat dan mistisme dalam Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1983), hlm. 26
[2] Ahmad Syadali, Mudzakir, Filsafat Umum, (Bandung: pustaka Setia, 2004), hlm. 167
[3] Amroeni Drajat, Filsafat Islam, (jakarta: Penerbit Erlangga, 2006) hlm. 26
[4] Mudzakir, op. Cit., hlm. 168
[5] Drajat, op. Cit., hlm. 26
[6] Harun Nasution, op. Cit., hlm. 26
[7] Mudzakir, op. Cit., hlm. 168
[8] Drajat, op. Cit., hlm. 27
[9] Ibid., hlm. 28
[10] Ibid., hlm. 31
[11] Ibid., hlm. 33
[12] Ibid., hlm. 34
[13] Ibid., hlm. 35
[14] Harun Nasution, op. Cit., hlm. 32
[15] Mudzakir, op. Cit., hlm. 169
[16] Ibid., hlm. 170
[17] Harun Nasution, op. Cit., hlm. 32
[18] Ibid., hlm. 32
[19] Mudzakir, op. Cit., hlm. 171
[20] Ibid., hlm. 172
[21] Ibid., hlm 172
Share:

1 komentar:

Socialize

Random posts

3/randomposts

BTemplates.com

3/recentposts
Diberdayakan oleh Blogger.

Google+ Followers

Total Pageviews

Cari Blog Ini

Blog Archive

Breaking

Facebook

[recent]