Random Posts

randomposts

Minggu, 28 April 2013

Aliran Syi'ah


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latarbelakang
Islam adalah agama yang memiliki dua sumber hukum, yaitu Al-quran dan hadis. Namun ketika suatu masalah tidak ditemukan dalam dua sumber tersebut, maka seorang muslim dapat berijtihad. Hal itu lah yang membuat perbedaan pendapat dalam Islam, karena manusia memiliki pola pikir yang berbeda-beda. Sehingga saat ini terdapat beberapa aliran pemikiran atau teologi Islam.
Untuk itu di sini akan dibahas salah satu cabang teologi Islam atau konsep tauhid dalam ilmu kalam yaitu Syi’ah. Diharapkan dengan adanya pembahasan mengenai aliran Syi’ah ini, kita mengetahui secara jelas apa yang dimaksud Syi’ah. Mulai dari sejarah sampai perkembangannya. Seiring berjalannya waktu, dalam perkembangan Syi’ah mengalami perbedaan pendapat. Sehingga membuat kelompok ini terpecah menjadi beberapa sekte.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian dari Syi’ah?
2.      Bagaimana Sejarah Aliran Syi’ah?
3.      Bagaimana Pertumbuhan Aliran Syii’ah?
4.      Apa saja Sekte-sekte dalam aliran Syi’ah?


C.    Tujuan
1.      Untuk mengetahui pengertian Syi’ah.
2.      Untuk mempelajari sejarah Syi’ah.
3.      Untuk mengetahui pertumbuhan aliran Syi’ah.
4.      Untuk mengetahui beberapa sekte dalam Aliran Syi’ah.



BAB II
PEMBAHASAN

Syi’ah*
A.    Pengertian Syi’ah
Syi’ah ialah golongan umat Islam yang terlampau mengagungkan keturunan-keturunan Nabi, mereka mendahulukan keturunan Nabi, untuk menjadi khalifah. Syi’ah maknanya ialah sahabat dan pengikut.[1] Syi’ah dilihat dari bahasa berarti pengikut, pendukung,  kelompok. Yang berasal dari bahasa Arab, kata jamaknya yaitu Syiya’un.[2] Sedangkan secara terminologis adalah sebagian kaum muslim yang dalam bidang spiritual dan keagamaannya selalu merujuk pada keturunan Nabi Muhammad Saw. atau orang yang disebut ahl al-bait. Mereka menolak petunjuk keagamaan dari para sahabat yang bukan ahl al-bait atau pengikutnya.[3]
Menurut Thabathbai, istilah Syi’ah untuk pertama kalinya ditujukan kepada para pengikut Ali, pemipin pertama ahl al-bait pada masa Nabi Muhammad Saw. Para pengikut Ali pada waktu itu ialah Abu Dzar Al-Ghiffari, Miqad bin Al-Aswad, dan Ammar bin Yasir. Pengertian bahasa dan terminologis di atas hanyalah merupakan dasar yang membedakan antara Syi’ah dengan kelompok Islam lainnya.[4]

B.     Sejarah Syi’ah
Kemunculan syi’ah dalam sejarah, terdapat perbedaan pendapat dikalangan para ahli. Menurut Abu Zahrah, syi’ah mulai muncul pada masa pemerintahan Usman bin Affan kemudian tumbuh dan berkembang pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib. Sedangkan menurut Watt, syi’ah baru benar-benar muncul ketika berlangsung peperangan Ali dan Mu’awiyah yang dikenal dengan perang siffin.[5]
Golongan Syiah berpendapat bahwa Ali adalah manusia yang utama berhak mendapat warisan kedudukan sebagai khalifah. Oleh sebab itu ada orang yang berpendapat bahwa golongan Syiah telah ada semenjak meninggalnya Rasulullah Saw. Syiah berpendapat bahwa yang berhak menggantikan Nabi Muhammad saw. setelah beliau wafat adalah keluarganya (ahlul bait). Sedangkan ahlul bait yang mula-mula berhak adalah Ali bin Abi Thalib (saudara sepupunya). Beliau juga sebagai menantu Rasulullah saw.
Pada saat terjadinya  fitnah besar-besaran atas terbunuhnya Usman, kedok kesektean pun terbongkar, sehingga kelompok orang bergabung dibawah panji’Ali sedangkan kelompok yang lain mendukung Mua’wiyah.[6] Para pendukung Ali  segera membentengi, bersatu menghadapi berbagai pertempuran. Sebagai akibat dari pertempuran Siffin yang semakin melebar. Di antara mereka ada yang ke luar dari barisan Ali, itulah kaum Khawarij. Sebaliknya ada pula pihak yang mendukung dan membela Ali. Mereka itu lah benih-benih pertama dari aliran Syi’ah.[7] Walaupun belum dikonfirmasikan bahwa istilah Syi’ah sudah diterapkan pada mereka sejak saat itu.
Sementara itu pihak lain begitu setia kepada Ali, karena berpendapat bahwa tak seorang pun yang lebih berhak menjadi khalifah dibandingkan Ali.[8] Syi’ah dan Khawarij, sama-sama  merupakan musuh Bani Umayyah yang dengan kejam memerangi mereka. Tidak diragukan lagi bahwa  pertempuran Karbala’ dan terbunuhnya al-Husain (61 H) merupakan salah satu peristiwa politik dan spiritual terbesar dalam islam, yang menyulut  kobaran api permusuhan di mana jiwa  para pendukung kaum Alawiyin sarat dengan dengki dan rasa dendam.
 Banyak propaganda kaum Abbasiah yang dilakukan di bawah lindungan kaum Alawiyin. Dalam rangka menghadapi  pengejaran-pengejaran yang terjadi terus-menerus ini, Syi’ah berpendapat bahwa mereka harus membentengi diri dengan ajaran al-Taqiyyah. Mereka mengadakan kontak dengan berbagai macam kebudayaan, mengambil apa yang perlu, memasukan kedalam ajaran agama yang perlu mereka masukkan. Mereka mampu mengumpulkan  sejumlah ajaran dan mendapat  yang menjadi landasan kepartaian dan kesektean. Mereka mampu menembus kelemahan Daulah Abbasiah hingga mereka bisa memerintah. Mereka mendirikan negara-negara, baik di Timur maupun Barat, yang sebagai puncak adalah Daulah Fatimah.

C.     Perkembangan Aliran Syi’ah
Dalam perjuangannya, selain memperjuangkan hak kekhalifahan ahl al-bait di hadapan dinasti Ammawiyyah dan Abbasiyah., Syi’ah juga mengembangkan doktrinnya sendiri. Berkaitan dengan teologi, mereka mempunyai lima rukun iman, yaitu tauhid (kepercayaan pada keesaaan Allah), nubuwwah (kepercayaan kepada kenabian), ma’ad (kepercayaan akan adanya hidup di akhirat), imamah (kapercayaan terhadap adanya imamah yang merupakan hak ahl al-bait), dan adil (keadilan Ilahi).[9]
Peranan orang Syi’ah di mesir dengan berdirinya kerajaan Bani Fathimiyah (358-367 H/ 969-1171 M). tindasan yang dilakukan terhadap orang-orang Syi’ah sebagai lawan politik Bani Umayah, hal itu diiikuti juga oleh khalifah Bani Abbasiyah.[10] Karenanya, orang-orang Syi’ah melarikan diri ke daerah Afrika Utara, suatu daerah yang cukup jauh dari Baghdad, pusat pemerintahan Bani Abbasiyah dan kebetulan penduduknya membenci gubernur-gubernur yang membebabi pajak yang berat.
Pada 288 H/901 M, tampil seorang tokoh Syi’ah Abu Abdillah as-Syi’i, yang tekun berpropaganda, sehingga pengikut Syi’ah semakin bertambah.[11] perkembangan tersebut diiringi kemenangan mereka atas Bani Aghlab di Tunisia. Dengan  kemenangannya Ubaidillah al-Mahdi,diangkat sebagai khalifah , berkedudukan di kota al-Mahdiyah. Ia beberapa kali gagal menaklukan Mesir, dia meninggal pada 323 H/935 M.
Al-Muiz Lidinillah, putranya, berhasil menaklukan Mesir, di bawah panglima Jauhar, tahun 358 H/969 M. Kabilah-kabilah Bar-bar, daulat Bani Idris di Magribil Aqsha telah ditakhlukan juga, sehingga kekuasaan Bani Fathimiyah ini terbentang luas, dari Tripolia Barat disebelah timur, sampai pesisir laut Atlantika di sebelah barat dan Pulau Sicilia di Laut Tengah.
Mesir dijadika pusat pengembangan paham Syi,ah. Doa-doa khotbah Jum’at semua mendoakan khalifah Bani Abbasiyah, diganti dengan mendoakan khalifah al-Muiz Iidinillah.[12] Pada tahun 359 H/970 M dibangun Masjid Jami’ al-Azhar yang dijadikan pusat studi ilmu-ilmu keislaman, kebudayaan, sekaligus pusat pengembangan paham Syi’ah. Di bulan Sya’ban tahun 362 H/973 M, khalifah al-Muiz sampai di pelabuhan Iskandariyah, dan menjadikan Kairo sebagai kota pusat pemerintahannya.
Khalifah al-Muiz Ladinillah berusaha keras menyiarkan paham Syi’ah, dilakukan secara berangsur-angsur, hingga hamper-hampir tidak terkesan dan tidak menimbulkan amarah orang-orang Ahlus Sunnah yang merupakn paham terbesar yang diikuti penduduk Mesir. Ditetapkannya Qadhi Ahlus Sunnah, disamping ditetapkannya Qadhi Syi’ah.[13] Akhirnya menjelang tahun 379 H/992 M, seluruh jabatan-jabatan penting di bidang agama, politik, dan kemiliteran dipegang oleh orang-orang Maghribi yang Syi’ah itu.
Waktu demi waktu telah dilalui oleh aliran Syi’ah. Sehingga dalam sejarahnya kelompok ini akhirnya terpecah menjadi beberapa sekte. Diantaranya yaitu Itsna Asyariyah, Zaidiyah, dan Isma’iliyah.[14]

D.    Sekte-sekta dalam aliran Syi’ah

1.      Syi’ah Imamiyah atau Itsna Asyariyah
a.       Asal-usul penyebutannya
Dinamakan  syi’ah imamiyah karena yang menjadi dasar akidahnya adalah persoalan imam dalam arti pemimpin religio politik, yakni Ali berhak menjadi khalifah bukan hanya karena kecakapannya dalam memimpin, tetapi juga karena ia telah ditunjuk nas dan pantas menjadi khalifah pewaris kepemimpinan Nabi Muhammad SAW.[15] Adapun Abu Bakar dan Umar, adalah orang-orang yang merampas hak Ali sebagai pengganti Nabi Muhammad SAW.[16]
Syiah Imamiyah adalah nama yang dititikberatkan pada pandngannya tentang imamah. Nama Syiah Iman Dua Belas didiriakan atas bilangan iman yang mereka yakini brjumlah dua belas orang imam.[17] Adapun penerrima wasiat setelah Alibin Abi Thalib adalah keturunan dari garis Fatimah, yaitu Hasan bin Ali kemudian Husen bin Ali sebagaimana yang telah disepakati. Setelah itu Ali Zaenal Abidin, kemudian secara berturut-turut; Muhammad Al-Baqir, Abdullah Ja’far Ash-Shadiq, Musa Al-kahzim, Ali Ar-rida, Muhammad Al-Jawwad, Ali Al-Hadi, Hasan Al-Askari dan terakhir adalah Muhammad Al-Mahdi sebagai imam  kedua belas. Demikianlah, mereka disebut dengan sebutan Syi’ah Itsna Asyariyah.[18]
Imam adalah bersih (Ma’sum) dari kesalahan. Ketentuannya tidak boleh ditolak, yang barang siapa memberontak terhadap Imam boleh dibunuh.[19]

b.      Doktrin dalam Syi’ah Imamiyah
1)      Tauhid
2)      Keadilan
3)      Nubuwwah
4)      Ma’ad
5)      Imamah




2.      Alirah Zaidiyah
Disebut Zaidiyah karena sekte ini mengakui Zaid bin Ali sebagai Imam kelima. Kelompok ini berbeda dengan Syi’ah sekte lainnya. Dari nama Zaid bin Ali inilah nama Zaidiyah diambil. Abu Zahra menyatakan bahwa sekte ini merupakan sekte yang paling dekat dengan Sunni.[20] Mereka tidak membenarkan pengakuan sifat-sifat yang berlebih-lebihan atau sifat-sifat khayalan, yang diberikan kepada Ali.[21]
Al-Zaidiah adalah para pengikut Zaid (112-741) bin’Ali’ bin Al-Husain yang dikenal sebagai pemberani, berilmu luas dan kuat berargumentasi. Keberaniannya ini mengantarkannya menuju kematian dalam rangka membela dakwahnya.[22] Mayoritas pengikut aliran Zaidiah mengatakan bahwa Allah SWT adalah sesuatu yang tidak seperti sesuatu yang lain; tidak serupa dengan segala sesuatu yang ada.[23]
Zaidiyah mengembangkan doktrin imamah yang tipikal. Kaum Zaidiyah menolak pandangan yang menyatakan bahwa seorang imam yang mewarisi kepemimpinan Nabi Muhammad SAW. telah ditentukan nama dan orangnya oleh Nabi, tetapi hanya ditentukan sifatnya saja. Ini jelas berbeda dengan sekte Syi’ah lain yang percaya bahwa Nabi Muhammad SAW. telah menunjuk Ali sebagai orang yang pantas menjabat sebagai imam setelah Nabi wafat karena Ali memiliki sifat yang tidak dimiliki oleh orang lain.[24]

3.      Syi’ah Isma’iliyah
Yaitu yang mengimamkan Isma’il bin Ja’far Ash Shadiq. Mereka mentakwilkan ajaran-ajaran Islam, sekehendaknya saja, jauh dari kehendak Islam. Untuk pemimpin-pemimpin dan kepala-kepala tidak ada kewajiban menjalankan upacara-upacara agama itu. Mereka menganggap ahli-ahli falsafah sebagai Nabi.[25]
Syi’ah Isma’iliyah juga disebut syi’ah Sab’iyah. Istlah Syi’ahh Sab’iyah memberikan pengertian bahwa sekte ini hanya mengakuai tujuh Imam, yaitu Ali, Hasan, Husen, Ali Zaenal Abidin, Muhammad Al-Baqir, Ja’far Ash-Shadiq dan Ismail bin Ja’far. Itulah yang membuat sekte ini disebut dengan Syi’ah Sab’iyah.[26] Syiah Ismailiyah berkeyakinan bahwa imamah terjadi atas dasar nash dan penunujukan, dan bahwa imam adalah ma’shum sehingga dengan demikian seorang imam pasti bersih dari dosa dan cela.[27]
Tidak diragukan lagi bahwa aliran Ismailiah merupakan sekte Syi’ah yang paling banyak melakukan kajian. Mereka hendak memfilsafatkan ajaran-ajaran mereka. Kemudian mereka memfilsafatkan ajaran-ajaran mereka bersamaan dengan semua akidah Islam. Mereka memasukan pikiran-pikiran asinng antara Timur dan Barat yang mereka ketahui. [28]
Filsafat mereka ada bahayanya, sebab tidak hanya berlaku di kalangan orang-orang tertentu saja tetapi sampai juga ke tangan orang awam melalui jalur-jalur yang begitu rahasia dan hendak didektekan kepada kaum muda sejak usia dini. Ini sebagian fisafat yang bersifat merusak  menimpakan benih-benih jelek pada akidah Islam, mengakibatkan akidah Islam tertimpa serentetan bencana. Mereka menafsirkan penciptaan dalam interpretasi filosofis yang tidak sejalan dengan ke Mahakuasaan dan ke-Maha Agungan  Allah SWT. Jelaslah bahwa kaum Ismailiah, dalam hal ini, sependapat dengan para tokoh filosof illuminasi, yang karenanya serangan dihantamkan kepada mereka semua secara bersama-sama. Mereka meyakini bahwa Wahyu tidak terputus, karena Wahyu merupakan pancaran dari al-Natiq kepada al-was-yu dan para imam.[29]
Ajaran Sab’iyah pada dasarnyta sama dengan sekte lain. Perbedaannya terletak pada konsep kemaksuman Imam. Bila dibandingkan dengan sekte Syi’ah lain, Sab’iyah sangat ekstrim dalam menjelaskan kemaksuman imam. Kelompok ini berpendapat bahwa imam walaupun kelihatannya melakukan kesalahan dan menyimpang dari syariat ia tidaklah menyimpang karena mempunyai pengetahuan yang tidak dimliki oleh manusia biasa.
Ada satu sekte dalam Sab’iyah yang berpendapat bahwa Tuhan mengambil tempat dalam diri imam. Oleh karena itu, imam harus disembah. Salah satu khalifah Dinasti Fatimiyah, Al-Hakim bin amrillah, berkeyakinan bahwa dalam dirinya terdapat Tuhan sehingga ia memaksa rakyat untuk menyembahnya.[30]



BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Syi’ah dilihat dari bahasa berarti pengikut, pendukung,  kelompok. Yang berasal dari bahasa Arab, kata jamaknya yaitu Syiya’un. Sedangkan secara terminologis adalah sebagian kaum muslim yang dalam bidang spiritual dan keagamaannya selalu merujuk pada keturunan Nabi Muhammad Saw. atau orang yang disebut ahl al-bait.
Mengenai sejarahnya ada perbedaan pendapat pada beberapa ulama. Ada yang mengatakan bahwa Syi’ah muncul ketika Nabi Muhammad SAW. wafat. Dimana kelompok ini berpendapat bahwa yang berhak menggantikan Nabi Muhammad SAW. adalah Ali. Namun yang harus kita garis bawahi yaitu kemunculan aliran Syi’ah yaitu ketika terjadinya perang Siffin. Dimana Ali dan Mu’awiyah melakukan perdamaian. Namun dalam perdamaian tersebut pihak Ali dirugikan, sehingga pengikut Ali ada yang setuju dan ada pula yang tidak setuju dengan perdamaian tersebut. Kelompok yang setuju dan tetap mengikuti Ali itulah yang kemudian dinamakan Aliran Syi’ah.
Dalam perjuangannya, Syi’ah mengembangkan doktrinnya sendiri. Berkaitan dengan teologi, mereka mempunyai lima rukun iman, yaitu tauhid (kepercayaan pada keesaaan Allah), nubuwwah (kepercayaan kepada kenabian), ma’ad (kepercayaan akan adanya hidup di akhirat), imamah (kapercayaan terhadap adanya imamah yang merupakan hak ahl al-bait), dan adil (keadilan Ilahi).
Sejarah mencatat perjalanan aliran Syi’ah. Waktu dan perkembangan menimbulkan perbedaan pendapat  dalam aliran ini. Sehingga dalam sejarahnya kelompok ini akhirnya terpecah menjadi beberapa sekte. Diantaranya yaitu Itsna Asyariyah, Zaidiyah, dan Isma’iliyah.



DAFTAR PUSTAKA

Abdul Mu’in, M. Taib Thahir. 1966. Ilmu kalam. Jakarta: PT Bumirestu
A. Nasir, Sahilun. 2010. Pemikiran kalam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Rozak, Abdul, Rosihon Anwar. 2001.  Ilmu kalam. Bandung: Pustaka Setia
Madhkour, Ibrahim. 1995.  Aliran dan Teori Filsafat Islam. Jakarta: Bumi Aksara
Sudarsono. 2004. Filsafat islam. Jakarta: PT Renika Cipta


* Makalah dipresentasikan pada mata kuliah Ilmu Kalam pada hari Kamis, 26 April 2012 oleh kelompok 2/EI/E/II. STAIN
[1] M. Taib Thahir Abdul Mu’in, Ilmu kalam, (Jakarta: PT Bumirestu, 1966) hlm.
[2] Sahilun A. Nasir, pemikiran kalam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2010), hlm. 72
[3]Abdul Rozak, Rosihon Anwar, Ilmu kalam, (Bandung: Pustaka Setia, 2001), hlm. 89
[4] Ibid., hlm. 89
[5] Ibid., hlm. 90
[6] Ibrahim Madkour, Aliran dan Teori Filsafat Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), hlm. 88
[7] Ibid., hlm. 89
[8] Ibid., hlm. 89
[9] Anwar, op., cit., hlm.92
[10] A. Nasir, op., cit., hlm. 102
[11] Ibid, hlm. 103
[12] Ibid, hlm. 103
[13] Ibid, hlm. 104
[14] Anwar, op., cit., hlm. 93
[15] Anwar, op., cit., hlm. 93
[16] Abdul Mu’in, op., cit., hlm.
[17] Sudarsono, Filsafat islam, (Jakarta: Pt. Renika Cipta, 2004), hlm. 17
[18] Anwar, op., cit., hlm. 93
[19] Madhkour, op., cit., hlm. 92
[20] Anwar, op., cit., hlm. 101
[21] Abdul Mu’in, op., cit hlm.
[22] Madhkour, op., cit., hlm. 90
[23] Ibid, hlm. 91
[24] Anwar, op., cit., hlm. 101
[25] Abdul Mu’in, op., cit., hlm.
[26] Anwar, op., cit., hlm. 96
[27] Sudarsono, op., cit., hlm. 20
[28] Madhkour, op., cit., hlm. 98
[29] Ibid, hlm. 99
[30] Anwar, op., cit., hlm. 100
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Socialize

Random posts

3/randomposts

BTemplates.com

3/recentposts
Diberdayakan oleh Blogger.

Google+ Followers

Total Pageviews

Cari Blog Ini

Blog Archive

Breaking

Facebook

[recent]