Random Posts

randomposts

Minggu, 28 April 2013

Sejarah dan Perkembangan Akhlak



BAB I
PENDAHULUAN

1.    Latarbelakang
Membahas tentang akhlak, tidak pernah lepas dari perilaku manusia. Karena akhlak sudah ada sejak manusia itu dilahirkan. Mulai dari manusia yang pertama kali, yaitu Nabi Adam as sampai sekarang ini. Baik buruknya akhlak seseorang akan terliat dari bagaimana perilaku mereka. Tentunya akhlak seseorang akan mempengaruhi kedudukan mereka dalam masyarakat luas serta di hadapan Allah Swt.
Akhlak merupakan pembeda antara manusia dengan makhluk lain. Karena manusia tanpa akhlak, akan kehilangan derajatnya sebagai makhluk Allah yang paling mulia. Kita dapat melihat dari firman Allah Swt. Dalam surat At- Tin ayat 4-6 yang artinya:
Sesungguhnya kami telah menciptkan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian kami kembalika dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka). Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal soleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.
Karena akhlak sudah ada sejak manusia pertama kali, yaitu Nabi Adam as. Tentu akhlak memiliki sejarah yang luar biasa. Pertumbuhan dan perkembangannya pun tentu sangat menarik untuk kita pelajari. Mulai dari ilmu akhlak di luar Islam, akhlak bangsa Ibrani, akhlak dalam ajaran Islam serta akhlak sebelum Islam. Dimana memiliki pemikir-pemikir yang berbeda setiap perkembangannya.

2.    Rumusan  masalah
A.    Apa pengertian sejarah ilmu akhlak?
B.    Bagaimana Perkembangan ilmu akhlak di luar Islam?
C.   Bagaimana akhlak bangsa Ibrani?
D.   Bagaimana akhlak sebelum Islam datang?
E.    Bagaimana akhlak dalam agama Islam?



3.    Tujuan
A.    Untuk mengetahui pengertian sejarah ilmu akhlak
B.    Untuk mengetahui perkembangan ilmu akhlak di luar Islam
C.   Untuk memahami akhlak bangsa Ibrani
D.   Untuk mengetahui akhlak sebelum Islam datang
E.    Untuk mengetahui bagaimana akhlak berkembang dalam Islam



BAB II
PEMBAHASAN

1.    Pengertian dan Sejarah Ilmu Akhlak
Sebelum memcari pengertian sacara keseluruhan, terlebih dahulu kita mencari devinisi kata perkata. Sejarah adalah peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau. Pertumbuhan adalah tumbuh terus-menerus, bercabang dan sepanjang waktu. Ilmu ialah pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara sistematis menurut metode-metode tertentu yang digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu dibidang pengetahuan itu. Akhlak adalah budi pekerti, tingkah laku.[1]
Sejarah pertumbuhan ilmu akhlak adalah suatu peristiwa perkembangan pengetahuan tentang tingkah laku seseorang melalui beberapa metode yang disusun secara sistematis dari zaman ke zaman. Sejarah ilmu akhlak yaitu sejarah yang mempelajari batas antara baik dan buruk, antara terpuji dan tercela, tentang perkataan atau perbuatan manusia lahir dan batin.
Akhlak dalam arti bahasa, sebenarnya sudah dikenal manusia di atas permukaan bumi ini yaitu apa yang disebut dengan istilah adat-istiadat (tradisi) yang dihormati, baik dalam kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat. Dalam keadaan terputusnya wahyu (zaman fatrah) maka tradisi itulah yang dijadikan tolak ukur dan alat penimbangan norma pergaulan kehidupan manusia, terlepas dari segi apakah itu baik atau buruk menurut setelah datang wahyu.
Bangsa Arab sebelum Islam telah memiliki dalam kadar yang minimal pemikiran dalam bidang akhlak. Pengetahuan tentang berbagai macam keutamaan dan mengerjakannya, walaupun nilai yang tercetus lewat syair-syairnya belum sebanding dengan kata-kata hikmah yang diucapkan oleh filosof-filosof zaman kuno. Sewaktu Islam datang yang dibawa oleh Muhammad SAW, maka Islam tidak menolak setiap kebiasaan yang terpuji yang terdapat pada bangsa Arab, Islam datang kepada mereka membawa akhlak yang mulia yang menjadi dasar kebaikan hidup seseorang, keluarga, umat manusia serta alam seluruhnya. Setelah Al-qur’an turun maka lingkaran bangsa Arab dalam segi akhlak dari segi sempit menjadi luas dan berkembang, jelas arah dan sasarannya.

2.    Ilmu Akhlak di Luar Islam
Ilmu akhlak di luar Islam adalah pengetahuan tentang akhlak yng tidak didasarkan pada Al-qurqn dan hadis. Ternyata banyak akhlak yang tidak berdasarkan Al-quran dan hadis diantaranya yaitu:

A.    Akhlak pada bangsa Yunani
Pertumbuhan ilmu akhlak pada bangsa Yunani baru terjadi setelah munculnya orang-orang yang bijaksana (500-450 SM). Sedangkan sebelum itu di kalangan bangsa Yunani tidak dijumpai pembicaraan mengenai akhlak, karena pada masa itu perhatian mereka tercurah pada penyelidikannya mengenai alam.[2]
   Dasar yang digunakan para pemikir Yunani dalam membangun ilmu akhlak adalah pemikiran filsafat tentang manusia. Ini menunjukkan bahwa ilmu akhlak yang mereka bangun lebih bersifat filosofis. Pandangan dan pemikiran filsafat yang dikemukakan para filosof Yunani berbeda-beda. Tetapi substansi dan tujuannya sama, yaitu menyiapkan angkatan muda bangsa Yunani, agar menjadi nasionalis yang baik, merdeka, dan mengetahui kewajiban mereka terhadap tanah airnya.[3]
Berikut ini adalah filsuf Yunani yang pertama kali mengemukakan pemikiran dibidang akhlak.
1)    Socrates (469-399 SM)
Socrates dipandang sebagai orang yang merintis ilmu akhlak, karena ia pertama kali yang berusaha sungguh-sungguh membentuk hubungan manusia dengan dasar ilmu pengetahuan. Dia berpendapat bahwa akhlak dan pola hubungan itu tidak akan terjadi kecuali bila didasarkan pada ilmu pengetahuan. Sehingga ia menyatakan bahwa keutamaan itu adalah ilmu.[4] Sesudah Socrates, lahirlah beberapa paham yang mengenai akhlak. Paham-paham itu macam-macam sejak zaman itu hingga sekarang ini. Golongan yang terpenting dan lahir sesudah Socrates adalah “Cynics” dan “Cyrenics”
2)    Cynics Dibangun oleh Antithenes (444-370 SM)
Menurut golongan ini bahwa ketuhanan itu bersih dari segala kebutuhan dan sebaik-baik manusia adalah orang yang berperangai ketuhanan. Mereka banyak mengurangi kepentingan dunia, rela menerima apa adanya, suka menanggung penderitaan, tidak suka kemewahan, dan menjahui kelezatan. Hal ini mereka lakukan karena dengan cara ini lah ia selalu ingat pada Tuhan. Sebaliknya hidup bergelimang dengan kemewahan akan membawa orang lupa pada Tuhan.

3)    Cyrenics (450-341SM)
Menurut golongan ini mencari kelezatan  dan menjahui kepedihan adalah satu-satunya tujuan hidup yag benar dan perbuatan yang utama adalah perbuatan yang tingkat kelezatannya lebih besar dari pada kepedihan.

4)    Plato (427-347 SM)
Plato berpendapat bahwa di dalam jiwa itu ada kekuatan bermacam-macam, dan keutamaan itu timbul dari perimbangan kekuatan itu. Meurutnya pokok-pokok keutamaan itu ada empat yaitu,
1)    Hikmat kebijaksanaan;
2)    Keberanian;
3)    Keperwiraan;
4)    Keadilan.

5)    Aristoteles (394-322 SM)
Ia membangun sebuah paham yang khas, pengikutnya dinamakan peripatetics. Dia berpendapat bahwa tujuan terakhir yang dikehendaki oleh manusia mengenai segala perbuatan ialah “bahagia”, jalan untuk mencapai bahagia adalah dengan menggunakan akal sebaik-baiknya. Menurut Aristoteles tiap-tiap keutamaan adalah tengah-tengah antara dua keburukan. Sebagai cotoh dermawan adalah tengah-tengah diantara boros dan kikir.




6)    Stoics dan Epicurius (322-240 SM)
Keduanya berbeda pendapat dalam mengemukakan pandangannya mengenai kebaikan. Stoics sebagaimana paham Cynics. Pendapatnya ini banyak diikuti oleh filsafat Yunani dan Romawi. Sedangkan Epicurius mendasarkan pemikirannya pada paham Cyrenics.

B.    Akhlak Agama Nasrani
Pada akhir abad ketiga masehi, tersiar agama Nasrani di Eropa. Agama itu dapat membawa pokok-pokok ajaran akhlak yang tersebut dalam Taurat dan Injil. Menurut agama ini bahwa Tuhan adalah sumber akhlak. Tuhan yang membentuk patokan-patokan akhlak yang harus dipelihara dan dilaksanakan dalam kehidupan sosial. Agama ini mengatakan bahwa yang disebut baik adalah perbuatan yang disukai Tuhan serta berusaha melaksanakannya dengan baik.

C.   Akhlak Bangsa Romawi
Pada abad pertengahan gereja memerangi filsafat Yunani dan Romawi, serta menentang penyiaran ilmu dan kebudayaa kuno. Mempergunakan filsafat diperkenankan sekedarnya untuk meenguatkan keyakinan-keyakinan agama, batas-batasnya dan ketertibannya. Pada masa ini filsafat yang menentang agama Nasrani di buang jauh-jauh. Ajaran akhlak yang lahir di Eropa pada abad pertengahan itu adalah ajaran akhlak yang dibangun dari peradaban antara ajaran Yunani dan Nasrani.

D.   Akhlak Bangsa Arab
Bangsa Arab pada zaman jahiliah, bangsa Arab tidak memiliki ahli filsafat yang mengajak pada aliran paham tertentu di kalangan bangsa Yunani, seperti Epicurius, Zeno, Plato, dan Aristoteles.  Pada waktu itu bangsa Arab hanya memiliki ahli hikmah dan ahli syair yang memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran.
Setelah sinar islam memancar, maka suasana bagaikan sinar matahari menghapiska kegelepan malam. Bangsa Arab kemudian tampil maju menjadi bangsa yang unggul disegala bidang, berkat akhlakul karimah yang diajarkan islam.
Allah menjadikan manusia dalam betuk suasana yang baik dan memberikan jalan baik yang harus ditempuh. Allah menetapkan juga beberapa keutamaan seperti benar dan adil, menjadikan kebahagiaan di dunia dan kenikmatan di akhirat sebagai pahaala bagi orang yang mengikutinya.

E.    Akhlak Agama Hindu
Akhlak agama Hindu berdasarkan kitab Weda (1500 SM), selain mengandung dasar-dasar ketuhanan juga mengajarkan prinsip akhlak Hindu yang wajib dipegang teguh oleh pengikutya. Prinsip-prinsip tersebut adalah patuh dan disiplin pada pelaksanaan upacara ajarannya sebagaimana mestinya. Seseorang yang bisa melakukan kewajiban tersebut dengan smpurna maka dapat dipandang sebagai orang yang tercapai derajat kemuliaan yang sesungguhnya. Sebaliknya orang yang melalaikan hal tersebut, kurang hati-hati atau salah dalam melaksanakan upacara keagamaan, berarti dosa.
Tanda-tanda yang dipandag baik dalam akhlak agama Hindu adalah
a)    Kemerdekaan;
b)    Kesehatan;
c)    Kekayaan;
d)    Kebahagiaan.
Hal itu dapat dicapai jika seseorang patuh melaksanakan upacara keagamaan dengan baik dan sempurna.

3.    Akhlak Bangsa Ibrani
Bangsa Ibrani yang populer dengan sebutan bani Israil, mengaku bahwa berdasarkan akhlak mereka kepada ajaran yahudi yang disandarkan kepada ajaran Nabi Musa yang tersebut dalam kitab Taurat. Bangsa ini pernah mendapat nikmat yang lebih dari bangsa lain, karena banyak Nabi-nabi yang dilahirakan dari bangsa bani Israil.
Mereka telah dibekali dengan prinsip-prinsip akhlak yang bersumber dari ajaran Allah melalui Rasul-Rasul, dan mereka mengaku sebagai bangsa berakhlak yang berdasarkan ajaran Allah. Tetapi mereka keluar dari garis akhlaqul karimah. Allah menyiksa mereka dengan penderitaan yang luar biasa, lebih dari pada yang dialami bangsa lain. Sekitar tahun 586 SM Yerusalem ibukota bani Israil dihancurka oleh Nebukadnezar dan orang-orang Yahudi ditawan. Tahun 539 SM kerajaan Babilonia dikalahkan oleh raja Persia, Cyrus dan orang-orang Yahudi terlepas dari penindasan. Pada tahun 520 SM dapatlah bani Israil membangun kembali Yerusalem. Namun ketik tahun 70 SM titus memasuki Yerusalem dan memusnahkan kembali Yerusalem yang sudah dibangun oleh orang-orang bani Israil.

4.    Akhlak Sebelum Islam
Akhlak sebelum Islam maksudnya ialah akhlak yang dilmiliki oleh orang pada masa jahiliyah, yaitu zaman kebodohan sebelum Islam lahir. Pada waktu itu penduduk Arab menyembah berhala dan hanya beberapa tempat saja yang beragama Yahudi dan Kristen. Mereka hidup tanpa mengenal adanya Allah. Mereka hanya memepercayai dan menyembah berhala, menyembah matahari, bulan, dan menyembah bintang.
Dalam zaman yang amat gelap tersebut bangsa Arab mempunyai sifat yang berani, ulet, kuat ingatan, mempunyai perasaan, tahu harga diri, dan ingin kasih sayang. Namun sifat yang baik tersebut dikalahkan ole sifat yang buruk. Selama zaman ini, bangsa Arab diliputi dengan kezaliman. Para wanita tidak diperlakukan sebagai manusia. Tidak ada batas bagi laki-laki berapapun mereka beristri. Jika seorang meniggal, maka istrinya yang banyak tersebut termasuk harta pusaka bagi ahli warisnya.
Zaman jahiliyah ini merupakan zaman yang akhlaknya dalam keadaan yang memprihatinkan. Akhlak zaman jahiliyah ini hampir sama sekali dengan binatang. Namun jika dibandingkan dengan binatang, sungguh binatang lebih baik, sebab binatang tidak mempunyai akal pikiran tetapi ia mempunyai rasa kasih sayang yang tinggi.
Manusia mempunyai kelabihan tersendiri dibandingkan dengan makhluk ciptaan yang lainnya. Manusia adalah makhluk yang paling sempurna dan mulia. Namun kenyataannya manusia zaman ini justru barakhlak buruk.
Ada beberapa fenomena jahiliyah yang dibenci Rasulullah, diantaranya:
a)    Berdoa meminta kepada orang yang dianggap saleh.
b)    Mengikuti orang berilmu yang fasik dan ahli badah yang sesat lagi jahil.
c)    Percaya sepenuh hati pada sihir
d)    Menyucikan makhluk selayaknya sang khalik
e)    Munafik dalam akidah
5.    Akhlak Dalam Ajaran Islam
Akhlak dalam ajaran lslam berdasarkan Alquran dan hadis. Ilmunya disebut ilmu akhlak yaitu suatu pengetahuan yang mempelajari tentang akhlak manusia. Akhlak dalam ajaran Islam merupakan jalan hidup manusia yang paling sempurna dan menuntun umat kepada kebahagiaan dan kesejahteraan. Semua itu terkandung dalam firman Allah dan sunah Rasul.
Sesungguhnya Allah tidak memaksakan suatu perintah atau mencegah dengan suatu larangan. Tetapi Allah menjadikan kabaikan dunia tergantung akhlak mausia tentang keadilan, kebenaran, kejujuran dan menjadikan kerusakan dunia karena sebaliknya. Tujuan dari setiap tingkah laku dalam Islam adalah mendapat ridha Allah.
Ahli pikir islam yang terkemuka yang giat menyuarakan akhlak Islam menerangkan sebagai berikut.
A.   Imam Al-Ghazali (1058-1111 M)
Dengan kitabnya yang mashur “Ihya’ ‘Ulumuddin”, mengungkap pandangan akhlak sebagai berikut:
1)    Akhlak berarti bentuk jiwa.
2)    Akhlak yang baik dapat mengadakan perimbangan antara tiga kekuatan dalam diri manusia, yaitu kekuatan berpikir, hawa nafsu, dan amarah.
3)    Akhlak itu adalah kebiasaan jiwa yang tetap terdapat dalam diri manusia yang dengan mudah dan tidak perlu berpikir menumbuhkan perbuatan dan tingkah laku  manusia.
4)    Tingkah laku seseorang itu lukisan hatinya.
5)    Kepribadian pada dasarnya dapat menerima suatu pembentukan, tetapi lebih codong kepada kebajikan dibanding kejahatan.
6)    Jiwa itu dapat dilatih, dikuasai, diubah kepada akhlak yang mulia dan terpuji.







B.   Al-Farabi (879-950)
Ahli pikir Islam yang menitik beratkan pandagan akhlak pada masalah kenegaraan.  Pandangan-pandangan akhlak yang disebutkan adalah sebagaii berikut.
1)    Negeri yang utama ialah negeri yang memperjuangkan kemakmuran dan kebahagiaan bagi masyarakatnya.
2)    Untuk kepentingan itu, haruslah berpedoman pada contoh teraturnya hubungan antara Allah dengan alam semesta dan antara isi alam satu dengan yang lainnya.
3)    Timbulnya masyarakat karena tiga macam:
a)    Karena ada kekuatan seseorang yang kuat seperti raja atau panglima yang memimpin dan mempersatukan masyarakat.
b)    Karena persamaan keturunan dan pertalian darah diantara warganya.
c)    Karena hubungan perkawinan atau keluarga.

C.   Ibnu Bayah (880-975 M)
Beberapa ilmu pengetahuan yang dikuasainya, khususnya dalam masalah akhlak, ia memunyai pandagan sebagai berikut.
1)     Faktor rohanilah yang menggerakan manusia melakukan perbuatan baik ataupun buruk.
2)    Sebagian akhlak manusia ada yang sama denagan akhlak hewan, misalnya sifat beraninya macan, sombongnya merak, sifat malu, rakus, dan patuh dari berbagai binatang. Manusia yang tidak mengindahkan sifat kesempurnaan berarti hanya mencukupkan dirinya pada sifat-sifat hewani saja dan keutamaannya menjadi hilang.



BAB III
PENUTUP

1.    Kesimpulan
Sejarah pertumbuhan ilmu akhlak adalah peristiwa perkembangan pengetahua tentang tingka laku seseorang melalui berbagai macam metode yang tersusun secara sistematis.  Akhlak diluar islam berarti ilmuu akhlak yang tidak berdasarkan Alquran dan Hadis. Dimana akhlak diluar agama Islam ini terdiri dari akhlak bangsa Yunani, agama Nasrani, akhlak bangsa Romawi dan lain-lain.
Adapun akhlak bangsa Ibrani itu adalah sebutan populern dari Bani Israil. Yang mana akhlakk mereka berdasarkan ajaran Yahudi yang disandarka kepada nabi Musa yang tersebut dalam kitab Taurat. Sebelum Islam datang, manusia bereda pada masa jahiliyah, yaitu zaman kebodohan. Di zaman jahiliyah bangsa Arab merupakn penduduk yang menyembah berhala.
Kemudian datanglah ajaran agama Islam yang menyempurnakan agama-agama sebelumnya. Agama yang membawa ke jalan yang benar dan satu-satunya agama yang diridhai Allah. Dimana akhlak manusia dalam ajaran Islam berdasarkan Alquran dan Hadis, yang disampaikan dari Nabi kepada umatnya.

2.    Saran
Setelah mempelajari sejarah dan perkembangan ilmu akhlak ini seharusnya kita sadar tentang akhlak kita. Mencoba merubah untuk menjadi lebih baik lagi. Karena sebagai orang Islam kita tidak boleh kalah dengan orang-orang diluar Islam seperti dalam sejarah ini.









DAFTAR PUSTAKA

Amin, Ahmad. 1983. Etika (Ilmu Akhlak). Jakarta: Bulan Bintang
Abdullah, Yatimin. 2007. Studi Akhlak dalam Persepektif Alquran. Jakarta:
Amzah
Abudiinata. 1997. Akhlak Tasawuf. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
AR, Zahruddin dkk. 2004. Pengantar Studi Akhlak. Jakarta: PT Grafindo Perada





[1] Departemen Pendidikan, Kamus Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1997), hlm. 891
[2] Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000), hlm. 59
[3] Mustafa, Akhlak Tasawuf, (Bandung: Pustaka Setia, 1997), hlm. 41
[4] Ibid., hlm. 60
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Socialize

Random posts

3/randomposts

BTemplates.com

3/recentposts
Diberdayakan oleh Blogger.

Google+ Followers

Total Pageviews

Cari Blog Ini

Blog Archive

Breaking

Facebook

[recent]