Random Posts

randomposts

Minggu, 28 April 2013

Filsafat Yunani dan Ciri-cirinya


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latarbelakang
Filsafat merupakan hal yang sangat menarik dan menantang untuk dibahas. Pada dasarnya filsafat itu sangatlah banyak macamnya. Mulai dar filsafat yang pertama kali muncul sampai filsafat islam dan modern sepeerti sekarang ini. Untuk itu kami ingin membahas salah satu filsafat yang ada yaitu filsafat Yunani. Filsafat inilah yang pertama kali mucul dan mendasari munculnya filsafat-filsafat baru. Di dalamnya ada beberapa objek yang dibahas dan dijadikan sebagai bahan penyelidikan. Sehingga membuat filsafat ini di bagi menjadi beberapa macam.
Dalam perjalanan sejarahnya, filsafat ini memiliki tokoh-tokoh yang berbeda dan memiliki aliran yang berbeda pula. Filsafaat Yunani tumbuh begitu pesat dan mendasari tumbuhnya filsafat-filsafat baru. Selain membahas objek penelitian para filosuf Yunani juga agkat bicara tentang pendapatnya mengenai konsep Roh.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa saja macam-macam Filsafat Yunani?
2.      Bagaimana pertumbuhan filsafat Yunani?
3.      Aliran apa saja yang terdapat dalam filsafat Yunani?
4.      Bagaiman konsep roh dalam filsafat Yunani?

C.     Tujuan
1.      Untuk mengetahui macam-macam filsafat Yunani.
2.      Untuk mengetahui pertumbuhan filsafat Yunani.
3.      Untuk mempelajari beberapa aliran filsafat Yunani.
4.      Untuk mengetahui pendapat filosuf Yunani mengenai konsep Roh.



BAB II
PEMBAHASAN

Filsafat Yunani dan Ciri-cirinya*
A.    Macam-macam Filsafat Yunani
1.      Filsafat Alam
Alam meliputi semua yang berhubungan dengan materi dan benda-benda yang bergerak dan diam. Perubahan yang timbul dan lenyap. Mempelajari filsafat Yunani berarti meyakinkan kembali lahirnya filsafat.
Filsafat dilahirkan karena kemenangan akal atas dongeng dan mitos. Dongeng dan mitos mulai dicari pembuktiannya dengan menggunakan akal. Keheranan dan kesangsian mulai dipertentangkan oleh filosuf alam pada zaman Yunani.
Filosuf memandang alam sebagai suatu soal yang bulat. Ia mencari pengetahuan tentang alam dan penghidupan. Pengetahuan ituu senantiasa dicari dengan tak pernah sampai pada penghabisan. Filosuf mencukil soalnya lebih dalam, ia tidak puas dengan apa adanya.

Filosuf-filosuf Filsafat Alam
Filosuf Yunani yang pertama tidak lahir di tanah Airnya sendiri, melainkan di tanah perantauan di Asia minor. Filosuf Yunanai yang pertama seperti Thales, Anaximandros, dan Anaaximenes.
a.       Thales (642 – 546 SM)
Thales termasuk yang disebut tujuh orang bijak yang kesohor dalam cerita-cerita lama Yunani. Thales digelari sebagai bapak filsafat karena dia lah yang mula-mula berfilsafat. Gelar ini diberiakan karena ia mengajukan pertanyaan yang amat mendasar dan jarang diperhatikan orang. Apa sebenarnya bahan alam semesta? Dia berpendapat bahwa alam semesta terjadi dari air. Alasannya karena air penting bagi kehidupan dan sebagai sumber kehidupan. Disini akal mulai lepas darii keyakinan. Akal mulai digunakan, buni itu terapung di atas air.
b.      Anaximandros (610 – 547 SM)
Menurut anaximandros langit itu bulat seperti bola. Bumi terkandung di tengah-tengahnya, bangunnya seperti selinder bulat panjang dan datar pada atasnya. Menurutnya asal itu satu, tapi bukan air. Ia berpatokan pada pendapat gurunya yaitu asal itu tidak dapat dirupakan dan tidak dapat dipersamakan dengan salah satu barang yang kelihatn di dunia ini. Segala yag kelihatan oleh panca indra adalah barang yang mempunyai akhir.  Karena itu barang asal tiada berhingga dan tiada berkeputusan.

c.       Anaximenes (585 – 528 SM)
Menurut anaximenes barang yang asal itu satu dan tak terhingga. Namun ia berbeda pendapat dengan gurunya yang mengatakan barag yang asal itu tidak ada persamaannya dengan barang yang lahir, dan tidak dapat dirupakan. Menurutnya barang yang asal itu udara, udara itulah yang satu dan tak terhingga. Udara merupakan sumber kehidupan. Udara yang memalut dunia ini, menjadi sebab segala yang hidup. Jika tidak ada udara, tidak ada yang dapat hidup. Sebagai mana jiwa kita yang tidak lain adalah udara, menyatukan tubuh kita. Begitu juda udara mengikat dunia ini menjadi satu, udara bisa jarang bisa juga padat.
Kalau udara jarang, terjadilah api. Kalau udara berkumpul, menjadi rapat terjadilah angin dan awan. Bertambah padat sedikit lagi turunlah hujan dari awann itu. Dari air terjadialah tanah dan tanah yang sangata padat menjadi batu.

d.      Epekdokles
Ia dilahirkan di kota Akragas di pulau sisilia. Msa hiduonya darii tahun 490 – 430 SM. Epekdokles megajarkan bahwa alam ini pada mulanya satu, disatukan oleh cinta. Cinta adalah kodrat yang membawa bersatu, bercampur.
Selain itu ia mengajarkan bahwa alam tersusun dari anasir alam, jumlahnya empat, yaitu: Udara, Api, Air, dan Tanah. Masing-masing keempat itu mempunyai sifat yang empat yaitu: dingin, panas, basah, dan kering.

e.       Anaxagoraas (500 – 248 SM)
Ia dilahirkan di kota Klezomenes di Asia Minor. Bagi anaxagoras anasir alamm itu tidak empat melainkan banyak dan tidak terhitug juumlahnya. Barang yang asal tidak dapat berubah menjadi barang yang baru. Keadaannya tetap, oleh karena itu anasir asal mestilah ada pada tiap-tiap barang.

f.       Leukipos
Leukipos berasal dari Militos, Ia murid permenides. Ia pujangga yang pertama sekali mengajarkan atom, atom berarti tidak dapat dibagi lagi. Atom adalah benda yang sekecil-kecilnya. Bagian penghabisan dari segala barang, karena sangat kecil atom tidak kelihatan.

g.      Demokritos (460 – 3360 SM)
Demokritos lahir di Diabdene, sebuah kota di pantai Trasia bagian Balkan. Ia seorang ahli ilmu alam yang berpengetahuan luas. Baginya atom itu adalah benda yang bertubuh, sekalipun sangat halus tubuhnya. Diantara atom itu ada lapang yang kosong, tempat atom bergerak.

2.      Filsafat Moral
Selain daripada persoalan Alam yaitu penciptaan manusia dan dunia, juga persoalan moral dan akhlak manusia banyak dibahas olehh filosuf  Yunani. Aristoteles menguraikan cara berpikir yang teratur mengenai moral. Tiap manusia diumpamakan dalam hidupnya sebagai seorang peramah. Aritoteles membedakan antara kesenangan dan kebahagiaan. Kesenangan bersifat sementara, sedangkan kebahagiaan bersifat abadi.
Kesenangan baginya lebih tinggi daripada kebahagiaan, dan pengetahuan itu menghasilkan kesenangan. Sebuah lukisan akan lebih indah jika barang itu  dikerjakan dengan ilmuu pengetahuan. Sehinggan barang itu lebih banyak memberikan kegembiraan.
Sementara itu Epicurius mengemukakan, bahwa takut akan mati itu tidak ada dasarnya. Dunia terjadi sendiri dan hidup akhirat yang abadi tidak ada. Dunia ini terjadi daripada atom, yang oleh perubahan alam daripada kekacauan menjadi kosmos. Tidak ada pembicaraan tentang Tuhan. Kemudian ia tegaskann bahwa kebajikan itu adalah mengecap kelezatan. Karena kejahatan yang tertinggi adalah kesengsaraan yang amat menyedihkan.  Moral baginya adalah kesenian untuk menghilangkan penderitaan.

B.     Pertumbuhan Filsafat Yunani
1.      Masa Filosuf Heraklitos (540 – 480 SM)
Heraklitos mempunyai paham relativisme. Anasir yang asal adalah satu yaitu Api. Api itu lebih daripada air dan udara. Setiap orang dapat melihat sifatnya yang mudah bergerak dan mudah bertukar rupa. Segala kejadian di dunia ini serupa dengan api yang tiada putus-putusnya. Berganti-ganti memakan dan menghidupi dirinya sendiri. Penghidupan di dunia ini dan kemajuan dunia diumpamakan sebagai air mengalir. Tidak pernah kita turun mandi dua kali ke dalam air yang  itu juga. Dengan kata lain engkau tidak dapat terjun ke sungai yang sama dua kali karena air sungai itu selalu mengalir. Demikian juga tidak ada barang yang tetap seperti keadaan semula. Tiap-tiap barang akan berubah menjadi keadaan sebaliknya. Dunia adalah tempat pergerakan dan tempat kemajuan yang tidak berkeputusan. Yang baru mendapatkan tempat menghancurkan yang lama.

2.      Masa Filosuf Elea
Filosuf Elea mengajarkan bahwa ada itu satu, tidak ada seluk beluknya dan tidak berubah-ubah. Apa yang tampak bukanlah yang sebenarnya, melainkan bayangan. Yang ada sebenarnya tidak dapat dilihat oleh pancaindra melainkan dengan pikiran yang memperhatikan.
a.       Xenophanes (580 – 470 SM)
Xenophanes adalah seorang yang taat beragama. Ia berpendapat bahwa Tuhan hanya satu yang terbesar diantara dewa-dewa dan manusia. Tidak serupa dengan makhluk fana dan tidak pula berpikiran seperti mereka. Tuhan yang Esa itu tidak dijadikan, tidak bergerak dan tidak berubah-ubah serta menguasai seluruh alam. Dia melihat semuanya, mendengar semuanya, memimpin alam dengan kekuatan pikirannya.

b.      Permanides
Permanides adalah seorang tokoh relativisme. Ia lahir kira-kira tahun 450 SM. Ia sebagai logikawan yang pertama dalam sejarah filsafat. Semboyannya pendek, yaitu: hanya yang ada itu ada, yang tidak ada itu tidak. Kebenaran terletak pada pengakuan bahwa yang ada itu ada, kesalahan persangkaan orang ialah bahwa yang tidak ada itu dikatakan juga tidak ada dan mesti ada. Menurut permanides benar tidaknya suatu pendapat diukur dengan logika. Ukuran kebenaran adalah akal manusia.

c.       Zeno
Zeno lahir pada tahun 490 SM. Ia terkenal tangkas dan tajam pemikirannya. Zeno merelatifkan kebenaran yang telah mapan pemikirannya adalah:
Anak panah yang meluncur dari busurnya, apakah bergerak atau diam. Menurut Zeno diam. Diam adalah bila suatu benda pada saat tertentu berada pada suatu tempat. Anak panah itu suatu saat berada pada suatu tempat, jadi anak panah itu diam.

d.      Protogoras
Inti filsafat Protogoras adalah manusia menjadi ukuran segala sesuatu. Manusia lah yang menentukan benar dan tidaknya sesuatu. Manusia itu adalah ukuran dari segalanya, bagi yang ada karena adanaya, bagi yang tidak ada karena tidak adanya. Maksudnya semua itu harus ditinjau dari pendirian manusia itu sendiri. Benar menurut kita belum tentu benar manurut orag lain. Misalnya angin bagi orang yang sehat dirasa segar, tetapi angin bagi orang yang sakit dirasakan menggigil dingin.

3.      Masa Filosuf Sofisme
Pada pertengahan abad ke 5 SM timbul aliran baru dalam filsafat Yunani, sofisme atau sofistik.  Sofisme adalah teori relativisme, menyetarakan segala-galanya.
a.       Georgias
Ia mengatakan tidak ada yang benar, sebab itu ia disebut nihilisme. Menurutnya jika kita mengetahui sesuatu, pengetahuan itu tidak dapat kita kabarkan kepada orang lain.
b.      Hippias
Ia mengajarkan berbagai Ilmu, diantaranya ilmu geografi. Ilmu bintang, hukum bahasa, dan lain sebagainya. Menurutnya, hukum negeri itu sang pemerkosa bagi manusia, karena ia bertentangan dengan hukum alam.
c.       Prodikos
Ia berpendapat bahwa mati itu dipandang sebagai kejadian yang baik sekali untuk menghindarkan kejahatan dalam hidup.  Menurutnya pandai atau tidaknya orang memakai barang tergantung pada derajat moralnya sendiri.

4.      Masa Filosuf klasik
a.       Sokrates
Ia meyakikan orang Athena bahwa tidak semua kebenaran relatif, malainkan ada kebenaran yang umum yang dapat dipegang oeh semua orang. Sebagian kebenaan memang relatif, tetapi tidak semuanya.
b.      Plato
Menurut Plato kebenaran umum itu bukan dibuat dengan cara dialog yang indah seperti Sokrates. Pengertian umum sudah tersedia di dalam Ide. Ide itu umum, berarti berlaku umum. Ide bukanlah suatu pikiran, melainkan suatu realita.
c.       Aristoteles
Inti sari ajaran logikanya ialah syllogismos (silogistik), yaitu menarik kesimpulan dari kenyataan yang Umum atas hal yang khusus. Jadi mencapai kebenaran tentangn sesuatu hal dengan menarik kesimpulan dari kebenaran yang umum.
Contoh:
Semua orang akan mati
Zulkifli adalah orang
Zulkifli akan mati

C.     Aliran Filsafat Yunani
1.      Idealisme
Tokoh aliran ini adalah Plato. Aliran ini adalah suatu aliran yang mengagungkan jwa, menurutnya cita adalah gambaran asli yang semata-mata bersifat rohani. Aliran ini memandang bahwa yang nyata adalah Ide, dan ide itu selalu tetap atau tidak mengalami perubahan sertapenggeseran.
Prinsip aliran idealisme mendasari semua yang ada dan nyata di alam ini hanya ide. Dunia ide merupakan lapangan rohani dan bentuknya tidak sama dengan alam nyata seperti yang nampak dan teargambar. Sedangkan ruangannya tidak terbatas.

2.      Materialisme
Aliran materialisme adalah aliran filsafat yang berisikan tentang ajaran kebendaan. Di mana benda merupakan sumber segalanya. Aliran ini berpikir dengan sederhana, mereka berpikir realitas sebagaimana adanya. Kenyataannya aliran ini memberikan suatu pernyataan bahwa segala sesuatu yang ada di semua alam ini ialah semua yang dapat dilihat atau diobservasi. Baik wujud maupun gerak-geraknya serta peristiwa-peristiwanya.

3.      Rasionalisme
Setelah pemikiran pada masa pertegahan sampai pada tahap penyempurnaan, yaitu setelah mendapat titik temu dan kedewasaan berpikir. Alat untuk mencapai ilmu pengetahuan yang secara alamiah dapat ditarapkan oleh manusia, yaitu akal dan dunia pengalaman.
Pelopor aliran ini adalah Rene Desecartes, menurutnya sumber pengetahuan yang dapat dijadikan patokan dan dapat diuji kebenarannya adalah rasio. Karena pengetahuan yang berasal dari proses akal dapat memenuhi yang dituntut ilmu pengetahaun ilmiah. Ada pendapat yang agak berbeda yaitu menurut Blaise Pascal. Menurutnya akal adlah tumpuan utama dalam menjelajahi pengetahan untuk menemukan kebenaran dan dapat memberikan kesanggupan dalam menganalisa bahan. Tetapi pada sisi lain, akal tidak dapat menemukan pengertian yagn sempurna tanpa adanya keterkaitan dengan pengalaman.

D.    Konsep Roh dalam Filsafat Yunani
Filosuf-filosuf Yunani dalam sejarahnya telah memikirkan tentang Roh. Bagi mereka adanya roh di samping badan tidak menjadi persoalan. Bahwa roh mesti ada sebagai unsur yang tidak dapat dipisahkan dari badan manusia yang hidup.
Hanya bagi mereka roh itu belum memiliki sifat sepiritual, tetapi masih bersifat materil. Sebagaimana halnya dengan orang primitif yang masih menganut kepercayaan animisme. Bagi Anaximenes, roh itu adalah udara yang halus sekali. Udara yang amat halus ini lah yang memelihara keutuhan badan.
Heraklitus berpendapat bahwa roh manusia tersusun dari api yang halus. Kualitaas roh bergantugn pada keadaan api yang menjadi dasarnya. Bertambah kering api it, bertambah derajat roh, dan bertambah basah api itu, bertambah rendah derajat roh.
Menurut Democritus, roh tersusu dari atom yang halus dan bersih. Berbentuk bundar dan licin dan tersebar diseliruh badan manusia. Setelah manusia mati, atom-atom itu bercerai-berai kembali dan tersebar di udara. Dengan demikian di udaa terdapat atom roh dan suatu ketika berkumpul lagi menjadi rohh dalam tubuh manusia yang lain.



  

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Filsafat Yunani berdasarkan objek atau bahan yang dijadikan penelitian, dibagi menjadi dua, yaitu filsafaat alam dan filsafat moral. Alam merupakan ciri khusus bagi filsafat Yunani. Para filosufnya mencari kebenaran tentang pengetahaun alam dan penghidupan.
Filsafat Yunani terus tumbuh dan berkembang, sehingga menghadirkan beberapa filosuf-filosuf. Yang pertama yaitu filosuf Heraklitos, ia mempunyai suatu paham yang disebut relativisme. Kemudian ada filosuf Elea yang mengajarkan bahwa ada itu satu tidak ada seluk beluknya dan tidak berubah. Yang selanjutnya hadir filosuf Sofisme, masa ini terkenal dengan teori tentang relativisme yang menyetarakan segala-galanya. Kemudian yang terakhir filosuf klasik, yaitu dimulai dari filosuf Sokrates, Plato kemudian Aristoteles.
Banyaknya filosuf-filosuf Yunani membuat filsafat ini terbagi menjadi tiga aliran, yaitu:
a.                   Idealisme
b.                  Materialsme, dan
c.                   Rasionalisme
Para filosuf Yunani tak berhenti hanya pada pembahasan tentang alam dan moral saja, namun sebagian filosuf Yunani juga angkat bicara tentang konsep Roh. Diantaranya yaitu Anaximenes yang berpendapat bahwa rohh adalah udara yagn sangat halus. Kemudian menurut Heraclitus, roh manusia itu tersusun dari api. Ada pula Democritus yang berpendapat bahwa roh tersusun dari atom yang halus dan bersih.


* Makalah ini dipresentasikan oleh kelompok 1 pada hari Rabu, 02 Mei 2012, EI/E/II/STAIN.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Socialize

Random posts

3/randomposts

BTemplates.com

3/recentposts
Diberdayakan oleh Blogger.

Google+ Followers

Total Pageviews

Cari Blog Ini

Blog Archive

Breaking

Facebook

[recent]