Minggu, 28 April 2013

Hubungan Ilmu Tauhid dengan Ilmu Pengetahuan


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Islam bukanlah sekadar agama yang membangun spiritual sesuatu masyarakat, Islam tidak cukup dengan menjalankan solat lima waktu, puasa, zakat dan Haji. Lebih daripada itu Islam adalah cara hidup (way of life). Oleh karena itu, makalah ini secara khusus membahas peran Islam dalam kehidupan manusia.
Membicarakan peran pada dasarnya membicarakan fungsi atau kegunaan. Peran itu ada dalam struktur. Dalam masyarakat terdapat struktur kemasyarakatan yang antara satu dengan yang lain saling memberikan fungsi. Fungsi salah satu komponen, baik dalam masyarakat mekanis maupun masyarakat organis, terhadap komponen yang lainnya disebut peran.
Dalam rangka membuktikan peran agama islam dalam kehidupan sosial, kita memerlukan dua komponen pembahasan yang menurut kami penting : pertama, hubungan antara perintah bertauhid dan cegahan syirik dengan ilmu pengetahuan; kedua, paradigma ilmu islami yang kini sedang digalakkan oleh banyak cendekiawan Muslim.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa hubungan antara tauhid dengan ilmu pengetahuan?
2.      Bagaimana paradigm ilmu-ilmu islami?
3.      Bagaimana jika ilmu eksakta ditangan umat islam?
4.      Bagaimana keadaan sains dunia islam masa kini?

C.    Tujuan
1.      Untuk mengetahui hubungan tauhid dengan ilmu pengetahuan.
2.      Agar memahami paradigm ilmu-ilmu islami.
3.      Untuk mengetahui perkembangan ilmu eksakta di tangan umat islam.
4.      Utuk memahami keadaan sains dunia islam saat ini.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Hubungan Tauhid dengan Ilmu Pengetahuan
Dalam Islam, perintah yang paling mendasar adalah menyembah Allah dan mengesakanNya. Larangannya adalah menyekutukan Allah, atau melakukan tindakan syirik. Tauhid dan syirik adalah dua sisi yang tidak dapat dipisahkan, meskipun antara yang satu dengan yang lainnya sangat berbeda. Dalam Al-qur'an, Allah berfirman: "katakanlah: "Dia-lah Allah Yang Maha Esa; Allah adalah Tuhan yang segala sesuatu bergantung kepada-Nya. Dia tidak melahirkan dan tidak dilahirkan dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia".[1] Sebagaimana dikatakan di atas, sisi kedua adalah cegahan syirik.
Setelah Allah menciptakan manusia dan menyuruh ciptaanNya itu mengesakannya - berarti manusia hanya boleh tunduk padanya dan tidak boleh tunduk pada sesama ciptaanNya - Allah menjadikannya sebagai khalifah di atas bumi. Dalam posisinya itu manusia diberi wewenang untuk mengatur dan mengelola alam, karenanya, Allah menundukkan alam untuk manusia.
.....dan Dia telah menundukkan bahtera supaya kamu dapat melakukan perjalanan di atasnya dengan perintahNya...[2]
.....dan Dia telah menundukkan pula bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya) dan Dia telah menundukkan bagimu malam dan siang.[3]
dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu, dan binatang-binatang ditundukkan (untukmu) dengan perintahNya.[4]
Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmatNya lahir dan bathin.[5]
....Maha Suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya.[6]
Bila ada manusia yang tunduk pada alam maka dia telah menyalahi fungsi penciptaannya, karena sebagaimana firman Allah di atas, seharusnya alamlah yang tunduk pada manusia bukan sebaliknya. Manusia yang tunduk pada alam berarti telah melakukan perbuatan syirik karena tunduk pada yang selain Allah.
Dengan demikian, ajaran tauhid melarang manusia untuk tunduk pada alam tapi sebaliknya justru menguasai alam dan memanfaatkannya untuk kepentingan manusia yang pada gilirannya memaksa manusia untuk menguasai hukum alam, yang darinya bersumber ilmu pengetahuan dan teknologi.

B.     Paradigma Ilmu-ilmu Islami
Sekarang ini kita dihadapkan pada ilmu agama dan ilmu non-agama. Ilmu adalah hasil pelaksanaan perintah Tuhan untuk memperhatikan dan memahami alam raya ciptaan-Nya.[7] Antara iman dan ilmu tidak terpisahkan, meskipun dapat dibedakan. Dikatakan tidak terpisahkan, karena iman tidak saja mendorong bahkan menghasilkan ilmu, tetapi juga membimbing ilmu dalam bentuk pertimbangan moral dan etis dalam penggunaannya.
Untuk kepentingan analisis,  tanda-tanda Tuhan dapat kita bedakan menjadi tiga, yaitu jagad raya, manusia, dan wahyu. Dari ketiga objek ini, kita akan melihat ilmu yang berbeda-beda tetapi tidak dapat dipisahkan antara yang satu dengan yang lainnya.
Manusia yang hendak menyingkap rahasia Allah melalui tanda-Nya berupa jagad raya, menggunakan perangkat berupa ilmu-ilmu fisik. Ketika manusia berusaha menyingkap rahasia Allah melalui tanda-Nya berupa wahyu, muncul ilmu-ilmu keagamaan. Manusia yang hendak menyingkap rahasia Allah melalui tanda-Nya berupa manusia, akan memunculkan berbagai ilmu. Dari segi fisik, pendalaman terhadap struktur tubuh manusia melahirkan ilmu biologi dan kedokteran. Sedangkan aspek psikis manusia memunculkan ilmu psikologi.
Paradigma ini sekaligus merupakan jawaban terhadap dikotomi ilmu agama dan ilmu nonagama.[8] Pada dasarnya, ilmu agama dan ilmu nonagama hanya dapat dibedakan untuk kepentingan analisis, bukan untuk dipisahkan apalagi dipertentangkan.
Hanya saja, tidak semua manusia dapat membaca tanda-tanda atau alamat yang sudah diberikan Tuhan. Nurcholis Madjid (1998:25) menjelaskan bahwa manusia yang akan mampu menangkap berbagai pertanda Tuhan dalam alam raya ialah
1.      Mereka yang berpikiran mendalam (ulu al albab)
2.      Mereka yang memiliki kesadaran tujuan dan makna hidup abadi;
3.      Mereka yang menyadari penciptaan alam raya sebagai manifestasi wujud trasendental; dan
4.      Mereka yang berpandangan positif dan optimis terhadap alam raya, menyadari bahwa kebahagiaan dapat hilang karena pandangan  negatif-pesimis terhadap alam.

C.    Ilmu Eksakta ditangan Umat Islam
Semangat ilmiah para ilmuwan muslim mengalir dari kesadaran mereka akan tauhid. Dalam beberapa literatur dijelaskan mengenai sumbangan umat islam terhadap ilmu ilmu eksakta, diantaranya terhadap matematika, astronomi, kimia dan optik.

1.      Matematika
Tokoh islam yang paling mahsyur dalam bidang matematika adalah Al-Khawarizmi. Dialah yang pertama menulis buku ilmu hitung dan aljabar.
Umar al-Khayam dan al-Thusi adalah ulama yang terkenal dalam bidang ilmu matematika. Angka nol adalah ciptaan umat islam. Pada tahun 873 M, angka nol telah dipakai di Dunia Islam.
Jasa atau fungsi umat Islam terhadap peradaban Dunia adalah ditemukannya angka arab dan nol yang dengan angka tersebut matematika menjadi efektif dan begitu cepat berkembang.

2.      Astronomi
Diantara umat islam yang terkenal ilmunya dalam bidang astronomi adalah Umar al-Khayam dan al-Farazi. Mereka menulis buku-buku tentang astronomi yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa latin untuk kemudian diajarkan di Eropa.
Kemajuan astronomi di Dunia Islam ditandai dengan didirikannya observatorium di berbagai kota seperti di Baghdad, Kairo, Damaskus, Seville, dan Andalusia.

3.       Kimia
Ulama muslim yang terkenal dalam bidang kimia adalah Jabir Bin Hayyan dan Zakaria Al Razi.
Pada zaman kejayaan islam, kimia dikembangkan atas dasar percobaan atau eksperimen. Eksperimen-eksperimen dilakukan oleh umat islam untuk mencari substansi yang misterius. Meskipun tidak membawa hasil, eksperimen-eksperimen tersebut telah mendorong perkembangan ilmu kimia.[9]

4.      OPTIK
Ulama yang terkenal dalam bidang optik adalah Ibnu Haitsam. Ia berhasil menentang teori penglihatan yang dikemukakan oleh Euklid dan Ptolomeus. Menurut Euklid dan Ptolomeus, benda dapat dilihat karena mata mengirim cahaya ke benda. Melalui cahaya itulah, mata dapat melihat benda. Sedangkan Ibnu Haitsam berpendapat sebaliknya. Menurutnya, benda dapat dilihat karena benda mengirim cahaya ke mata. Berdasarkan ilmu pengetahuan modern, teori Ibnu Haitsamlah yang ternyata dipandang benar.
Demikianlah sumbangan islam terhadap kehidupan manusia yang dibuktikan lewat pengembangan ilmu pengetahuan.

D.    Sains Dunia Islam Masa Kini
Melihat bukti dalam sejarah, ternyata umat islam zaman pertengahan berjasa dalam pengembangan sains. Sains di Dunia Islam sekarang ini sangat menyedihkan. Nurcholis Madjid (1998: 9) menyatakan bahwa sekarang ini, Dunia Islam merupakan kawasan bumi yang paling terbelakang diantara penganut-penganut agama besar. Negara-negara Islam jauh tertinggal oleh negara-negara yang menganut agama lain. Umat Islam sangat terbelakang dalam bidang sains. Diantara semua penganut agama besar di muka bumi ini, para pemeluk Islam adalah yang paling rendah dan paling lemah dalam pengembangan sains dan teknologi.
Keadaan yang memprihatinkan itu terjadi karena umat Islam tidak mampu menangkap ajarannya yang lebih dinamis dan sekaligus lebih otentik. Tugas kita sekarang adalah menangkap kembali ajaran Islam yang otentik dan dinamis sehingga mendorong akselerasi kebangkitan penguasaan ilmu-ilmu eksakta sehingga umat Islam terhindar dari kemunduran.

BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
 Dengan demikian, sumbangan atau peran Islam dalam kehidupan manusia adalah terbentuknya suatu komunitas yang berkecenderungan progresif, yaitu suatu komunitas yang dapat mengendalikan, memelihara dan mengembangkan kehidupan melalui pengembangan ilmu dan sains. Penguasaan dan pengembangan sains bukan saja termasuk alam saleh, melainkan juga bagian dari komitmen keimanan kepada Allah SWT.
ajaran tauhid melarang manusia untuk tunduk pada alam tapi sebaliknya justru menguasai alam dan memanfaatkannya untuk kepentingan manusia yang pada gilirannya memaksa manusia untuk menguasai hukum alam, yang darinya bersumber ilmu pengetahuan dan teknologi.
Semangat ilmiah para ilmuwan muslim mengalir dari kesadaran mereka akan tauhid. Dalam beberapa literatur dijelaskan mengenai sumbangan umat islam terhadap ilmu ilmu eksakta, diantaranya terhadap matematika, astronomi, kimia dan optik.

B.     Saran
Umat Islam seharusnya lebih memahami konsep tauhid, karena dengan konsep tauhid saja bisa membuat umat Islam menjadi umat yang maju. Sayang yang terjadi saat ini didunia Islam adalah kebodohan, dan kemiskinan yang tiada henti-henti.






[1](Q.S, Al-Ikhlas: 1-4)
[2] (Q:S, Ibrahim:32)
[3] (Q:S, Ibrahim:33)
[4] (Q:S, An-Nahl:12)
[5] (Q:S, Al-Luqman:20)
[6] (Q:S, Al-Luqman:20)
[7] Nurcholis Madjid (1998: 3-4)
[8] Dikotomi adalah membedakan antara ilmu agama dan ilmu nonagama.

[9] (Sayyed Hosein Nasr, 1994 : 103-5)

0 komentar:

Poskan Komentar